Asian Youth Day (AYD) Gereja Evangelista Kudus Gelar “Teatrikal Budaya”.

oleh -1,387 kali dibaca

image

Asian Youth Day (AYD) Gereja Evangelista Kudus, Gelar “Teatrikal Budaya”.

Kudus, Isknews.com – Orang muda katholik (OMK) St. Evangelista bekerjasama dengan Crew Asian Youth Day (AYD) menyelenggarakan penyambutan Kirab Salib, di antaranya dengan menggelar malam “Teatrikal Budaya”(07/06/16).

Adapun Malam ini turut hadir dan meramaikan Guest Stars nya Bang Asa Djatmiko (sutradara teater Djarum), Barongsai (SMP K), BAMAG (Kristen), Tari Kretek (STAIN Kudus), Tari Gambyong, Tari Gembira, Tari Candi Ayu (Budha) dan Acoustic by Romo (Katolik).

image

Eveline Panitia acara saat di konfirmasi Isknews.com menjelaskan bahwa Acara ini di mulai di hari Kamis tgl 2 juni, yaitu penerimaan salib dari Jepara. Jum’at nya talk show lintas agama, dengan tema peran anak muda membangun bangsa. Di pilih nya tema tersebut karena saat ini banyak anak muda yang terjerumus ke free sex dan narkoba. Di hari Sabtu dan minggu di adakan bazzar internal gereja.

Kirab Salib ini sudah di mulai sejak Oktober 2015, yaitu dari Kevikepan kedu Magelang, semarang, surakarta, jepara dan nanti nya berakhir di Jogjakarta, pada Bulan agustus 2017.

Semua umat di paroki, akan menyebut kirab salib dunia yang berasal dari vatikan, dan Kirab salib sendiri hanya untuk umat katholik”tandasnya.

Di waktu yang sama, Bang Asa Djatmiko (sutradara teater Djarum) juga turut membacakan puisi di malam teatrikal budaya tersebut, yang dalam kesempatan ini Bang asa (panggilan akrabnya) membawakan puisi yang berjudul Angkatan darurat, kepada Isknews.com memaparkan alasan di pilih nya puisi tersebut adalah, dia sangat prihatin kepada moral bangsa Indonesia  saat ini, dan yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kondisi bangsa Indonesia sepuluh tahun mendatang jika anak muda nya tidak lagi memegang kearifan lokal dan budaya asli Indonesia.

image

Bagi kalangan anak muda kita, free sex dan narkoba sudah menjelma menjadi musuh yang nyata, perlu di sadari penyebabnya diantaranya kita tidak lagi di ajari oleh orang tua kita,  belum memahami agama dengan benar dan untuk itulah kita mestinya mencari referensi kearifan lokal, dan budaya asli leluhur kita “pungkasnya. (Jivan).

KOMENTAR SEDULUR ISK :