Puskesmas Jati Awasi Ibu Hamil Resiko Tinggi Dengan Gerpak

oleh -304 kali dibaca
Kegiatan sosialisasi Gerpak di Desa Jati Kulon (foto: YM)

Kudus, isknews.com – Masa-masa kehamilan merupakan salah salah satu moment  terpenting dalam proses menjadi ibu yang baik serta pada masa itu terjadi suatu hubungan yang sangat intensif antara ibu dan calon bayinya.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa ibu yang sedang hamil juga memiliki berbagai resiko yang mampu menghilangkan nyawa ibu itu sediri. Dalam hal ini disebut dengan ibu hamil resiko tinggi.

Hal itu disampaikan oleh Amad Muhammad, Kepala BLUD UPT Puskesmas Jati saat sosialisasi Gerakan Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (Gerpak) di Desa Jati Kulon Jati Kudus, beberapa saat yang lalu.

menurutny, Ibu hamil resiko tinggi merupakan suatu masa dimana ibu tersebut dapat mengalami beragai resiko ketika hamil yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

“Dari berbagai faktor yang seringkali menjadi suatu penyebab utama resiko tinggi adalah, usia ibu yang terlalu muda atau tua saat hamil atau memiliki riwayat kelainan saat melakukan persalinan atau pada masa kehamilan,” katanya.

Pada masa kehamilan yang berhubungan dengan ibu hamil resiko tinggi tidak hanya berdampak buruk pada sang ibu saja akan tetapi juga berdampak buruk bagi si calon bayi yang dikandungnya.

Guna mencegah kematian ibu dan bayi saat persalinan. BLUD UPT Puskesmas Jati menggelar kegiatan Gerpak di Aula Balai Desa Jati Kulon. Dalam kegiatan tersebut Puskesmas Jati menghadirkan puluhan ibu hamil dan ibu hamil dengan resiko tinggi (bumil resti). Untuk melakukan perencanaan persalinan dirinya kedepan.

Amad Muhammad, Kepala BLUD UPT Puskesmas Jati mengungkapkan Angka Kemtian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Tengah tahun 2018 terdapat 421 kasus AKI dan 4.481 kasus AKB.

Menurut Amad, sebagian besar kematian kasus AKI dan AKB disebabkan oleh salah satunya oleh kehamilan resti. Tak hanya itu, berbagai resiko yang mungkin terjadi pada saat kehamilan juga turut mempengaruhi proses persalinan.

Seperti tidak adanya kendaraan atau orang yang mendampingi saat ibu mau melahirkan. Lalu minimnya pengetahuan ibu hamil terkait tanda-tanda persalinan, sehingga air ketuban telah pecah dan habis sebelum ibu hamil mendapat penanganan persalinan dari tenaga medis.

“Hal-hal semacam ini kerap terjadi di masyarakat. Untuk itu harus kita kuatkan pengetahuan dan kesiapannya dalam menghadapi persalinan,” tegasnya.

Dengan kegiatan ini, dia mengajak kepada seluruh ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya menghadapi persalinan. Antara lain, menyiapkan anggaran untuk persalianan, akomodasi dan orang-orang yang akan membantu menghantarkan ke tempat pelayanan kesehatan nantinya.

“Dalam gerpak ini kami libatkan kader-kader kesehatan yang ada di desa untuk melakukan penguatan ke pada ibu hamil dan keluarganya,” ujar dia.

Melalui kegiatan dia berharap AKI dan AKB di Kudus dapat ditekan. Sehingga ibu dapat melalui persalian dengan lancar dan bayiny dapat lahir dengan sehat. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :