Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Geliat usaha batik di Kabupaten Jepara kini semakin terlihat. Jika diawal millenium lalu tak banyak orang yang menggeluti bidang ini, kini di Jepara setidaknya sudah ada 16 sentra perajin batik motif Jepara yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Jepara. Diantaranya di Pengkol, Panggang, Kedungcino, Mulyoharjo, Bandengan hingga di Desa Geneng Kecamatan Batealit.
Berbagai terobosan terus dilakukan oleh perajin agar batik semakin dicintai dan dijangkau oleh masyarakat. Salah satunya strategi agar harga batik lebih terjangkau yakni memadukan antara batik tulis dan cap. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Erlisa Sulasmi pemilik Nabila Batik. Perajin batik yang berada di Kelurahan Pengkol RT 3 RW 3 Kecamatan Kota ini sudah sekitar enam tahun menggeluti usaha batik Jepara ini.
“Di awal usaha memang baru batik tulis dengan konsekuensi harganya yang relatif mahal. Agar batik ini bisa terjangkau oleh masyarakat, akhirnya kita memadukan antara teknik tulis dengan cap,” ujar Lisa, Sabtu (30/9/2017).
Dengan perpaduan itu, kata Lisa, dalam sebulan dirinya bisa memproduksi sekitar seribu potong kain batik. Dengan dibantu sekitar 10 karyawannya, Lisa bisa memenuhi order yang masuk setiap bulannya. “Saya memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang ada, sebab pekerjaan tidak harus dilakukan di tempatnya, melainkan juga dikerjakan dirumah pekerja,” imbuhnya.
Hingga saat ini, kata Lisa, batik buatannya lebih banyak dijual di Jepara sendiri utamanya kalangan PNS dan guru. Terlebih sejak ada instruksi dari Bupati agar PNS menggunakan batik utamanya batik khas Jepara, industri batik di Jepara semakin berkembang. Sehingga produksinya saat ini lebih banyak untuk mencukupi kebutuhan di Jepara. “Selain di jual di Jepara, kita juga menjual secara online melalui Instagram Batik Nabila. Belum lagi juga melalui pemeran-pemeran di luar kota,” jelasnya.
Terkait dengan harga, perempuan yang awalnya menggeluti meubel ini menyebut jika untuk batik cap harga mulai Rp.80 ribu hingga Rp.200 ribu. Sedangkan untuk batik tulis dijual mulai Rp. 200 ribu. “Dengan harga yang cukup terjangkau ini, kini masyarakat semakin banyak yang menggunakannya,” imbuhnya.
Akan tetapi, dibalik semakin menggeliatnya usaha batik ini, lanjut Lisa, ada kendala sumber daya manusia (SDM) yang semakin sedikit. Meski di Jepara ada sekolah yang mengajarkan batik, namun tidak semua lulusannya mau untuk menggeluti batik ini. Terlebih dengan semakin banyaknya perusahaan asing yang menyedot puluhan ribu karyawan, sektor batik semakin kesulitan mencari generasi muda yang mau mengembangkan batik. “Kendala memang ada di SDM, karena banyak yang memilih kerja di pabrik,” jelasnya. (ZA)










