Bukan Sekadar Motivasi! Motive Action Class ke-8 ASTI Kudus Tempa 200 Talenta Muda Mengejar Mimpi

oleh -369 Dilihat
CEO ASTI, Arif Budianto saat membuka Motive Action Class ke 8 yang diikuti sebanyak 200 siswa ASTI di Ballroom Hotel @hom Kudus, Selasa (25/8/2026) (Foto: YM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Sekitar 200 talenta muda sepak bola mengikuti Motive Action Class yang digelar Akademi Sarana Talenta Indonesia (ASTI) Kudus di Ballroom @HOM Hotel Kudus, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian anniversary ke-8 ASTI sekaligus agenda rutin tahunan untuk membangun mental dan semangat para pemain muda.

Sejumlah tokoh sepak bola turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menambah semangat ratusan peserta didik ASTI yang tengah menjalani proses pembinaan dan meniti mimpi menuju jenjang sepak bola yang lebih tinggi.

Motive Action Class tahun ini dipimpin oleh Filipus Gudel, salah seorang motivator aksi yang cukup populer di Jawa Tengah. Dengan pendekatan yang tidak hanya mengajak peserta mendengarkan motivasi, tetapi juga berani mengambil tindakan nyata, para peserta diajak menggali kembali tujuan dan alasan mereka dalam menekuni sepak bola.

CEO ASTI, Arif Budianto, mengatakan, istilah Motive Action sengaja dipilih karena kegiatan tersebut bukan sekadar memberikan motivasi yang membangkitkan semangat sesaat. Lebih dari itu, peserta didik diharapkan menemukan alasan kuat untuk bergerak dan mengambil langkah nyata demi mengejar cita-cita.

“Motive Action itu bukan motivasi. Bagaimana mereka menemukan alasan untuk bergerak,” ujar Arif.

Menurutnya, kegiatan tersebut menyasar dua kelompok peserta sekaligus, yakni siswa baru dan siswa lama. Bagi peserta baru, kegiatan itu menjadi bagian dari pengenalan terhadap pola pembinaan dan semangat yang dibangun di ASTI. Sementara bagi peserta lama, Motive Action Class menjadi momentum untuk kembali mengingat tujuan awal dan mimpi yang ingin mereka capai.

“Untuk anak baru dan anak lama untuk mengingatkan kembali. Jadi memang kita namakan Motive Action,” katanya.

Motive Action Class ASTI Kudus yang digelar di Ballroom @HOM Hotel Kudus menjadi bagian dari rutinitas setiap tahun saat peringatan anniversary. Meski ASTI telah berdiri lebih dari tujuh tahun, kegiatan khusus tersebut telah berjalan rutin selama empat tahun terakhir dan secara konsisten digelar di tempat yang sama.

“Kalau acara ini kita baru berjalan empat tahun. Dari kita sudah tujuh tahun lebih, acara ini berjalan empat tahun dan tempatnya di Hotel @HOM terus,” ungkap Arif.

Tahun ini, kegiatan diikuti sekitar 200 peserta didik ASTI Kudus dari kelompok usia 12 hingga 17 tahun. Sejalan dengan perjalanan ASTI yang memasuki usia kedelapan, akademi tersebut juga mengusung jargon “Do the Best, Be the Best” mulai 2026 sebagai semangat baru bagi para pemain muda.

Ketua KONI Kabupaten Kudus, Sulistiyanto, dalam sambutannya mengatakan kegiatan pembinaan seperti Motive Action Class menjadi bagian penting dalam membentuk mental dan karakter atlet muda. Menurutnya, kemampuan teknis di lapangan harus berjalan seiring dengan kedisiplinan, semangat, dan kesiapan mental.

Ia mengapresiasi konsistensi ASTI dalam melakukan pembinaan terhadap talenta-talenta muda serta membuka jalan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

“Pembinaan atlet tidak hanya soal bagaimana mereka berprestasi di lapangan. Yang tidak kalah penting adalah membangun karakter, mental, dan semangat mereka agar memiliki kesiapan menghadapi setiap proses dan tantangan,” katanya.

Sementara itu, Arif menegaskan tujuan utama pembinaan di ASTI adalah membuka jalan seluas-luasnya bagi para talenta muda untuk melanjutkan karier ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya menuju akademi elite klub profesional Liga 1 maupun Liga 2.

“Target kita adalah bagaimana anak didik kita banyak ke klub atau elite pro academy di Liga 1 maupun Liga 2. Jadi tujuan utama kita adalah mengangkat anak-anak yang ada di kita ini ke klub yang lebih baik atau klub elite pro academy yang menuju ke profesional,” jelasnya.

Sejumlah pemain binaan ASTI pun telah mendapatkan kesempatan bergabung dengan klub di berbagai level kompetisi. Di Liga 1, beberapa di antaranya tercatat melanjutkan pembinaan di Borneo FC dan Persita. Sementara pemain lainnya juga tersebar di sejumlah klub yang berlaga di kompetisi nasional.

Namun, Arif menekankan ASTI belum mengklaim diri sebagai pencetak pemain profesional secara langsung. Sebab, peserta didik yang dibina masih berada pada rentang usia SMP hingga SMA. Setelah menyelesaikan proses pembinaan, para pemain berbakat akan didorong untuk melanjutkan perjalanan ke akademi klub profesional.

“Kita belum menciptakan pemain profesional, karena kita masih di usia SMP-SMA, ada yang mentoknya di usia 17 tahun. Nanti kita menyalurkan ke tim akademi Liga 1 yang profesional,” katanya.

Saat ini, ASTI telah mengembangkan jaringan pembinaan di sekitar 10 kota di Indonesia. Delapan kota telah memiliki badan hukum, sementara dua kota lainnya masih dalam tahap pengembangan. Jumlah peserta didik di berbagai daerah tersebut mencapai sekitar 500 anak.

Selain membina kemampuan teknik, ASTI juga menaruh perhatian terhadap pembentukan karakter. Sistem boarding atau asrama dinilai memberikan ruang lebih besar untuk membentuk kebiasaan, kedisiplinan, dan karakter pemain karena aktivitas mereka dapat diprogram secara lebih terarah.

“Kalau boarding itu lebih terprogram dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Terutama memang pembentukan karakternya lebih mudah,” ujar Arif.

Di sisi prestasi, ASTI terus menunjukkan kiprah dalam berbagai turnamen nasional maupun internasional. Dalam turnamen di Thailand, tim kelompok usia U-10 dan U-12 berhasil meraih juara kedua, sedangkan kelompok U-18 menempati posisi ketiga. ASTI juga mencatatkan prestasi dalam turnamen di Batam serta meraih juara ketiga pada Sangju Cup di Korea.

Dalam metode pembinaannya, ASTI memadukan teori dan praktik. Evaluasi pertandingan dan analisis kekurangan pemain dilakukan melalui pembelajaran di kelas, kemudian diterapkan dan diperbaiki melalui latihan berulang di lapangan.

“Kalau teori itu misalnya analisis pertandingan kemarin, nanti dianalisis kekurangannya apa. Itu yang secara teori atau di classroom. Tapi metode di latihan kita intinya adalah pengulangan,” terang Arif.

Ia mengibaratkan metode tersebut sebagai proses menguasai satu kemampuan hingga benar-benar mahir, daripada mempelajari banyak hal tetapi tidak ada satu pun yang dikuasai secara maksimal.

“Mungkin bahasanya, mengajarkan satu jurus sampai mahir, daripada banyak jurus tapi enggak ada yang mahir,” tegasnya.

Melalui Motive Action Class dalam anniversary ke-8 ini, ASTI berharap para peserta didiknya semakin memahami bahwa perjalanan menuju sepak bola profesional membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan bermain bola. Mental, karakter, kedisiplinan, serta keberanian untuk terus bergerak menjadi bekal penting dalam mengejar mimpi.

Sebab, mimpi mengenakan jersey klub besar tidak akan datang dengan sendirinya. Para pemain muda harus berani mengambil tindakan, menjalani proses, dan terus memberikan yang terbaik dalam setiap langkah yang mereka tempuh. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.