Bulan Kemerdekaan, Peci Goni Produksi Warga Desa Tergo Kudus Kebanjiran Order

oleh -594 Dilihat
Pemilik Kang Goni, Muhammad Ali Mahmud, memamerkan peci goni produksinya di Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (22/8/2026). Peci bermotif kemerdekaan tersebut kebanjiran pesanan hingga sekitar 200 buah selama momentum HUT ke-81 RI. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Bulan kemerdekaan membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha kerajinan peci goni di Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Memasuki momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Peci Goni produksi Kang Goni kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemilik Kang Goni, Muhammad Ali Mahmud (34) mengatakan, peningkatan permintaan terutama terjadi pada peci goni yang memiliki motif atau ornamen khas kemerdekaan, seperti gambar bendera Merah Putih. Dalam kurun waktu sekitar 20 hari selama momentum kemerdekaan, pesanan peci khusus tersebut mencapai sekitar 200 buah.

“Alhamdulillah untuk peci goni, terutama yang ada logo atau motif benderanya, penjualannya mencapai sekitar 200-an. Mulai banyak order sejak awal Agustus,” kata Mahmud saat ditemui Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, pesanan tersebut tidak hanya datang dari konsumen di Kudus maupun Jawa Tengah. Pemasaran secara online membuat produk kerajinan dari Desa Tergo tersebut bisa menjangkau pembeli dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Orderannya random, pokoknya dari seluruh Indonesia. Mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua dan Maluku,” ujarnya.

Mahmud menyebut media sosial TikTok menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya penjualan. Selain melalui siaran langsung, pihaknya juga memanfaatkan iklan TikTok untuk memperkenalkan berbagai produk peci yang dibuatnya.

“Mayoritas dari TikTok, kemudian live TikTok dan iklan TikTok. Karena online kan jangkauannya memang bisa se-Indonesia,” jelasnya.

Peci bertema kemerdekaan tersebut menjadi salah satu produk musiman yang mengalami peningkatan permintaan setiap memasuki bulan Agustus. Namun, setelah momentum perayaan HUT RI berakhir, jumlah pesanan mulai kembali normal.

“Kalau sekarang sudah mulai redup karena momennya sudah habis tanggal 22,” imbuhnya.

Selain peci dengan motif kemerdekaan, Kang Goni tetap mengandalkan peci berbahan goni sebagai produk utama. Berbagai model dan variasi dikembangkan untuk memberikan pilihan kepada konsumen.

Mahmud mengatakan peci goni saat ini dibanderol mulai Rp60 ribu untuk berbagai ukuran. Konsumen juga dapat memesan ukuran tertentu sesuai kebutuhan karena seluruh proses produksi dilakukan sendiri.

“Mulai ukuran 5, 6, 7, 8 sampai 11. Ada juga yang request ukuran 13 atau 15, kita bisa produksi sesuai permintaan,” katanya.

Tidak hanya goni, Kang Goni juga mengembangkan peci berbahan pandan. Bahan baku tersebut relatif mudah diperoleh karena banyak tumbuh di lingkungan sekitar Desa Tergo dan selama ini lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk membuat tikar.

Menurut Mahmud, pemanfaatan pandan sebagai bahan peci sekaligus menjadi upaya untuk menjaga keterampilan kerajinan tradisional agar tetap diminati generasi muda.

“Ini sebenarnya bahan untuk tikar pandan. Yang perlu dihidupkan adalah generasi muda supaya kerajinan ini tidak habis,” ungkapnya.

Saat ini Kang Goni telah memiliki sekitar seratus varian atau motif produk, mulai dari peci goni, pandan hingga beludru. Penjualannya masih didominasi secara online karena belum memiliki toko fisik.

Meski demikian, pesanan secara offline dari para pedagang juga masih berjalan. Produk Kang Goni bahkan telah dikirim ke sejumlah daerah di luar Kudus.

Usaha peci goni tersebut mulai dikembangkan Mahmud sekitar 2020. Berawal dari latar belakang usaha konveksi, ia kemudian mencoba memanfaatkan karung goni bekas sebagai bahan baku untuk membuat peci.

Awalnya, bahan baku tersebut diperoleh dari gudang penyimpanan karung goni bekas di wilayah Pati. Dari bahan yang sebelumnya tidak terpakai, Mahmud kemudian mengolahnya menjadi produk kerajinan bernilai jual.

“Karung tepung tapioka dulu kan dari goni. Saya coba cari, ternyata ada satu gudang yang menyimpan goni bekas dan tidak terpakai. Dari situlah mulai produksi lebih besar,” pungkasnya. (AS/YM)