KUDUS, ISKNEWS.COM – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan pentingnya sinergi antara TNI dan pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Salah satunya melalui pembangunan jembatan, sumur bor, irigasi perpompaan hingga pipanisasi yang kini dirasakan manfaatnya oleh warga.
Hal tersebut disampaikan Sam’ani saat menghadiri peresmian Jembatan Garuda Merah Putih yang menghubungkan Desa Tanjungrejo dan Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Rabu (2/9/2026). Jembatan yang melintasi Sungai Logung tersebut diresmikan Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat.
Menurut Sam’ani, kolaborasi antara TNI dan pemerintah menjadi salah satu kekuatan dalam mempercepat pembangunan di berbagai wilayah. Kehadiran infrastruktur tersebut tidak hanya memperbaiki konektivitas, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan produktivitas masyarakat.
“Alhamdulillah, sebanyak 11 jembatan telah direalisasikan, terdiri dari satu jembatan arco, dua jembatan gantung, dan delapan jembatan beton. Sementara sejumlah pembangunan lainnya masih dalam proses,” ungkap Sam’ani.
Selain pembangunan jembatan, lanjutnya, dukungan terhadap ketersediaan air juga menjadi perhatian. Sejumlah program seperti pembangunan sumur bor, irigasi perpompaan dan pipanisasi turut dilakukan untuk menunjang kebutuhan air masyarakat sekaligus mendukung sektor pertanian.
Sam’ani berharap berbagai pembangunan tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Infrastruktur yang semakin baik dinilai mampu memperpendek waktu tempuh, mempermudah mobilitas warga, sekaligus membuka peluang ekonomi di wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses.
“Dengan adanya infrastruktur ini, kami berharap akses masyarakat semakin lancar, waktu tempuh lebih efisien, aktivitas perekonomian meningkat, dan produktivitas pertanian juga semakin kuat,” jelasnya.
Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat mengatakan pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih merupakan bagian dari program strategis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut diarahkan untuk membuka akses wilayah yang sebelumnya sulit terhubung dan meningkatkan keselamatan masyarakat.
Ia menyebut pembangunan jembatan dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan. Wilayah yang memiliki keterbatasan akses, jumlah penerima manfaat besar, serta memiliki jalur vital antardesa menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi pembangunan.
“Jembatan ini dibangun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Kami di Kodam IV/Diponegoro tidak pilih kasih dalam menentukan lokasi. Daerah yang memang benar-benar membutuhkan, penerima manfaatnya banyak, dan menjadi jalur vital interkoneksi desa akan kami prioritaskan,” ujar Achiruddin.
Menurutnya, persoalan akses masih menjadi tantangan di sejumlah daerah, terutama bagi masyarakat yang harus melintasi sungai untuk beraktivitas. Kondisi tersebut juga dapat membahayakan anak-anak yang menggunakan jalur tersebut untuk berangkat dan pulang sekolah.
Hingga saat ini, Kodam IV/Diponegoro telah menyelesaikan pembangunan 311 jembatan di wilayah Jawa Tengah. Ke depan, TNI menargetkan pembangunan sedikitnya 100 jembatan tambahan untuk memperluas akses masyarakat.
Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah juga diminta mengajukan data wilayah yang membutuhkan pembangunan jembatan. Usulan tersebut akan menjadi salah satu bahan untuk menentukan lokasi yang dinilai memiliki kebutuhan paling mendesak dan manfaat paling besar.
Selain pembangunan infrastruktur penghubung, TNI juga menjalankan program Menunggal Air. Program tersebut mencakup pembangunan sumur bor, penyediaan tempat penampungan air hingga distribusi air bersih guna membantu masyarakat yang menghadapi persoalan kekeringan.
Di Desa Tanjungrejo, kehadiran jembatan permanen disambut baik masyarakat. Ketua RW 06 Desa Tanjungrejo, Abdul Rosyid, mengatakan akses tersebut telah lama dinantikan, terutama oleh para petani yang selama ini mengalami kesulitan menuju lahan pertanian di seberang Sungai Logung.
Sebelum jembatan dibangun, warga hanya mengandalkan jalan setapak untuk menuju wilayah seberang. Saat musim hujan, debit sungai yang meningkat membuat akses tersebut sulit dilalui dan bahkan dapat menyebabkan warga terisolasi.
Keterbatasan akses juga berdampak terhadap pemasaran hasil pertanian. Petani kesulitan membawa hasil panen keluar, sementara pembeli maupun tengkulak tidak dapat dengan mudah menjangkau lokasi pertanian.
“Dulu kalau musim hujan petani tidak bisa menyeberang ke ladang di sisi timur. Akibatnya, harga jual hasil bumi anjlok karena pembeli kesulitan mengangkut barang. Sekarang mobil sudah bisa melintas, dan tengkulak bisa langsung ambil hasil panen,” kata Rosyid.
Untuk mengoptimalkan manfaat jembatan, Pemerintah Desa Tanjungrejo juga melakukan peningkatan jalan penghubung dari kawasan RW 06 menuju Desa Klaling. Pembangunan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas setelah jembatan dapat digunakan.
Selama proses pembangunan, masyarakat bersama personel TNI turut bergotong royong. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari dukungan bersama untuk menghadirkan akses yang lebih baik sekaligus mendorong pemerataan pembangunan hingga tingkat desa. (AS/YM)







