Camat Undaan Akui Masih Ada Persoalan Gizi Buruk dan ODF di Wilayahnya

oleh

Kudus, isknews.com – Kecamatan Undaan terus gelar pemantauan terkait persoalan stunting atau masalah gizi buruk terhadap anak balita menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kecamatan Undaan Kudus, dengan target penuntasan tahun 2020.

Saat ini masih ada ratusan balita di Undaan yang harus dibebaskan dari masalah stunting. Tak hanya itu, kawasan bagian selatan Kota Kretek ini juga mencanangkan tahun ini seluruh desa terbebas  dari kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau ODF (Open Defecation Free).

Camat Undaan Rifai Nawawi (Foto: YM)

Camat Undaan Rifai Nawawi mengatakan, pihaknya siap melaksanakan komitmen menjadikan Kudus sehat.

“Kami tak akan memberikan kesan wilayah kami ini sudah terbebas dari persoalan stunting dan ODF, kami akui wilayah ini masih belum terbebas dari dua hal tersebut. Yang penting kita tetap komitmen terus menekan angka tersebut,” ujar Rifa’i dihadapan awak media, Jumat (10/01/2019).

Beberapa gerakan di antaranya sosialisasi ODF dan optimalisasi pos pelayanan terpadu terus digalakan ke seluruh desa. Melalui posyandu yang ditangani bidan desa, bertujuan agar para balita dapat hidup sehat dan terhindar dari stunting ataumasalah gizi buruk.

TRENDING :  Susuri Jalan Kampung, Sulis, Pimpinan DPRD Kudus Ini Semprot Kelurahan Mlati Kidul Dengan Desinfektan

“Di seluruh wilayah Undaan, masih ada sekitar lima persen atau 500-an balita mengalami stunting,” ujarnya, saat memantau langsung pelaksanaan posyandu kelompok IV dan Kelompok II di Desa Medini Kecamatan Undaan, Jumat (10/01/2019).

Kunjungi Posyandu pantau Persoalan Gizi Buruk dan ODF di Wilayah Undaan (Foto: YM)

Di Desa Medini terdapat delapan posyandu yang ditangani Bidan Rekyan Lingkis Kinanti. Saat pemeriksaan di posyandu kelompok IV dan kelompok II, ditemukan tiga anak mengalami stunting.

Satu anak stunting karena bawaan sejak lahir, bukan karena kurang gizi. Sedang dua balita stunting disebabkan karena kurangnya asupan gizi dan ASI, bukan karenafaktor ekonomi orang tua.

“Kami selalu memantau langsung kegiatan di lapangan bersama kepala desa, sehingga tahu dan dapat mengatasi permasalahannya,” ungkapnya.

TRENDING :  Bahaya Kanker Serviks Terus Disosialisasikan

Menurutnya, sosialisasi dan pendataan stunting serta ODF terus dilakukan. Dari 16 desa di Undaan yang sudah melakukan pengumpulan data stunting sebanyak 15 desa, satu desa yang belum yakni Desa Wonosoco.

Sedang pengumpulan data ODF baru 13 desa, tiga desa belum melaksanakan yaitu Kutuk, Terangmas dan Desa Lambangan. Pihaknya berharap Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus lebih responsif terhadap stunting dan ODF.

Selama ini koordinasi dengan kecamatan dinilai masih kurang. Untuk mengatasi stunting dan ODF, DKK dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat (PMD) harus memberikan dukungan, tak hanya kelengkapan data tetapi juga anggaran.

“Ini tantangan, tetapi jika dapat berkoordinasi dengan baik kami semuanya dapat tuntas pada akhir tahun 2020 ini,” tegasnya.

Hingga saat ini, di Desa Undaan Lor saja masih terdapat sekitar 150 kepala keluarga (KK) dan di Desa Medini terdapat hampir 100 KK yang tidak memiliki jamban layak, sehingga kurang sehat untuk buang air besar.

TRENDING :  Pentingnya Imunisasi bagi anak

Jamban yang mereka miliki tidak ada septic tank atau tempat penampungan. Kotoran air besar disalurkan ke sungai dan sebagian lainnya masuk kubangan atau kolam air.

“Kudus belum dapat dikatakan bebas BABS atau ODF, karena faktanya masih banyak warga pemilik jamban tetapi pembuangan air besarnya sembarangan,” katanya.

Kepala Desa Medini Kecamatan Undaan Kudus, Agus Sugiyanto ditempat yang sama mengakui, masih butuh waktu untuk penuntasan stunting dan ODF.

Di Desanya saat ini masih ada sekitar 40 anak balita kurang gizi dari total sekitar 524 anak. Sedang masalah ODF ditemukan sekitar 100 KK yang masih membuang kotoran melalui saluran jamban ke sungai dan kolam. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :