Cegah Tragedi Terulang, Bupati Kudus Sam’ani Usulkan Papan Peringatan Hingga Gelang GPS

oleh -147 Dilihat
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memberikan imbauan keselamatan kepada para pendaki yang baru saja turun dari Puncak 29 di jalur pendakian Desa Rahtawu, Minggu (29/6/2025). (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Untuk mencegah insiden tragis kembali terjadi di jalur ekstrem pendakian Gunung Muria, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengusulkan sejumlah langkah antisipatif. Di antaranya adalah pemasangan papan peringatan di titik rawan serta pemakaian gelang GPS bagi para pendaki yang hendak naik ke puncak melalui jalur Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog.

Usulan tersebut disampaikan Sam’ani saat meninjau langsung dua titik utama jalur pendakian, yakni Pos Pendakian menuju Puncak Natas Angin dan Pos Pendakian menuju Puncak 29, Minggu (29/6/2025). Peninjauan ini dilakukan sebagai respons atas kecelakaan pendaki yang terjatuh dan meninggal beberapa waktu lalu di jalur ekstrem Natas Angin.

“Jalur Naga Natas Angin itu sangat ekstrem, perlu persiapan khusus dan pendampingan. Pendaki juga harus memperhatikan usia serta kondisi fisik mereka,” tegas Sam’ani dalam dialognya bersama pengelola jalur dan sejumlah pendaki.

Dikatakan, gelang GPS itu memiliki fungsi ganda. Selain sebagai penanda pendaki resmi, juga dapat digunakan untuk memantau keberadaan pendaki. Jika pendaki dalam ijinnya dua hari, ternyata selama tiga hari belum kembali, maka petugas akan melacak keberadaannya.

Ijin dilakukan, jika ternyata pendaki berada di posisi atau jalur yang dirasa tidak aman, maka tim akan melacak keberadaan pendaki itu, apakah selamat atau tersesat. Namun jika berada di posisi aman, maka Tim tidak akan menurunkan tim pencarian.

Selain itu, fungsi gelang GPS itu juga untuk mempermudah tim untuk melakukan evakuasi, termasuk mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk melakukan evakuasi.

Sam’ani juga mengimbau agar pengelola jalur pendakian rutin mengecek kondisi jalur, terutama saat musim ramai pendaki seperti bulan Sura (Muharam), yang banyak dimanfaatkan peziarah untuk mendaki hingga petilasan Abiyoso atau Pos 6.

Salah satu pendaki asal Demak, Nuri Putri (16), mengaku mendapatkan pengarahan lengkap sebelum melakukan pendakian. Ia juga diingatkan pentingnya membawa turun kembali sampah yang dibawa ke atas gunung. “Berangkat jam 05.00, sampai Pos 6 sekitar pukul 08.00. Tadi juga diingatkan soal keselamatan dan tata tertib,” ujar Nuri.

Sementara itu, penjaga Pos Pendakian Natas Angin, Stefanus Suryano, menjelaskan bahwa jalur menuju puncak masih ditutup sebagai bentuk penghormatan terhadap korban. “Saat ini pendaki hanya bisa sampai Pos 6 atau petilasan Soekarno. Rencana pembukaan kembali kemungkinan 2 Juli, tapi masih menunggu kepastian,” jelasnya.

Meskipun jalur ke puncak ditutup, tercatat puluhan pendaki tetap mendaftar pada hari itu. Sebagian besar dari mereka mendaki untuk tujuan spiritual, terutama karena bertepatan dengan momen bulan Sura.

Dengan adanya usulan dan perhatian langsung dari kepala daerah, diharapkan sistem keamanan pendakian Gunung Muria dapat semakin ditingkatkan, demi keselamatan dan kenyamanan para pendaki di masa mendatang. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :