Corona, Berbagai Acara Tradisi Kupatan di Kudus Ditiadakan, Termasuk Sewu Kupat dan Bulusan

oleh

Kudus, isknews.com – Sejumlah acara tradisi Kupatan yang biasanya dilaksanakan di Kota kretek Kudus tahun ini dipastikan tak digelar. Diantaranya adalah tradisi Sewu Kupat dan Bulusan yang sudah menjadi kalender budaya tiap “Bada Kupat” di Kudus.

Kepastian peniadaan tradisi rutin “Bada Kupat” yang biasanya berlangsung sepekan usai hari raya Idul Fitri atau tepatnya 7 Syawal tahun ini adalah dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona atau COVID-19.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Mutrikah. menurutnya, semua kegiatan budaya dan tradisi Kupatan untuk tahun ini sementara ditiadakan.

Tradisi Parade Sewu Kupat di Desa Colo, Dawe, Kudus yang digelar tahun lalu (Foto: YM)

“Ini karena situasi pandemi Corona baik nasional maupun di Kudus belum menurun,” katanya, Selasa (26/5/2020).

Dijelaskannya keputusan ini sudah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus sebelum puasa yang saat itu didalamnya termasuk juga peniadaan tradisi dandangan menyambut datangnya bulan puasa.

“Jadi tradisi budaya Parade Sewu Kupat di kawasan wisata Gunung Muria Colo, Dawe dan Tradisi kirab di Bulusan Desa hadipolo, Jekulo Kudus juga tidak dilaksanakan sementara untuk tahun ini,” ungkapnya.

Dirincinya ada beberapa tradisi rutin di Kudus yang tahun ini ditiadakan. selain tradisi parade Sewu Kupat dan tradisi Bulusan juga tradisi Praon di Desa Kesambi dan Temulus tahun ini tidak digelar.

“Jadi di desa-desa yang ada beberapa desa wisata dan objek wisata biasanya mengadakan tradisi kupatan. Masing-masing tradisi mengaktualisasikan sesuai dengan karakteristik masing-masing desa,” jelasnya.

Lebih lanjut, peniadaan tradisi ini juga mengacu pada instruksi Bupati Kudus. Ini terkait dengan pencegahan penyebaran virus Corona.

“Untuk tahun ini memang pemerintah tidak mengizinkan untuk terkait hal tersebut. Ini juga mengacu kepada surat edaran bupati. Ini terkait dengan pencegahan penyebaran virus Corona,” katanya.

Pihak dinas juga telah memberikan pemberitahuan kepada masing-masing desa. Mereka diminta agar meniadakan tradisi tersebut yang bersifat menyebabkan kerumunan.

“Mestinya sudah mengacu secara otomatis sudah ada edaran sudah teraktualisasi dalam berbagai kegiatan,” ujarnya.

Dengan adanya peniadaan tradisi tersebut cenderung berdampak di sektor pariwisata. Apalagi, kata dia adanya tradisi ini dapat menyedot hingga 10 ribu pariwisata dari berbagai daerah luar Kudus.

“Biasanya seperti tradisi Sewu Kupat di Colo ini dapat menyedot hingga 10 ribu pariwisata setiap tahunnya,”pungkas Mutrikah. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :