Cuaca Ekstrim, Sejumlah Wilayah Kudus Rawan Bencana, Ciptakan Kemandirian dan Desa Tangguh Bencana

oleh -1173 Dilihat
Sam'ani Intakhoris Sekda Kudus yang juga ex officio Kepala BPBD Kabupaten Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Peristiwa bencana alam terutama banjir seperti terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia harus diwaspadai oleh masyarakat. Utamanya pada cuaca dan musim hujan dengan intensitas curah tinggi yang kini sedang melanda wilayah di Kabupaten Kudus.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus dalam menghadapi
potensi bencana alam terutama angin kencang, banjir dan tanah longsor telah pula meningkatkan kesiapsiagaan antara lain dengan menyiapkan tempat evakuasi, peralatan, tenda, perahu karet dan logistik.

Sejumlah personel TNI dan warga saat bekerj bakti memperbaiki tanggul akibat bencana banjir (Foto: YM)

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus yang juga Ketua Ex Officio BPBD setempat, Samani Intakoris, meminta seluruh kecamatan harus siap siaga dan lebih intensif melakukan pantauan terkait potensi bencana di desa yang ada di wilayahnya.

“Lakukan pendataan warga dan seluruh kebutuhan, terutama desa rawan banjir dan longsor saat musim hujan sekarang,” ujarnya, Jumat (03/01/2020).

Untuk penanganan bencana melibatkan stakeholders, TNI-Polri, pemerintah kabupaten, kecamatan, desa dan masyarakat. Mereka harus saling berkoordinasi di bawah komando BPBD.

Pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait masalah kebencanaan, termasuk meminta pertimbangan pemerintah pusat agar desa dapat diberikan kewenangan mengalokasikan anggaran untuk antisipasi, penanggulangan dan penanganan bencana.

“Kami berharap di seluruh wilayah Kudus dapat tercipta desa mandiri
dan tangguh dalam menangani bencana, termasuk masyarakatnya harus
mampu melakukan evakuasi secara mandiri,” katanya.

Sementara, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya edukasi ke masyarakat agar ikut aktif dalam melakukan antisipasi dan penanganan bencana.

Menurutnya, saat musim hujan seluruh warga masyarakat harus mewaspadai bencana, di antaranya pohon tumbang akibat hujan disertai angin kencang, petir, banjir dan tanah longsor dan banjir.

Pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan bencana di wilayah Kota Kretek. Sekitar 40 pemukiman dan area persawahan 39  desa merupakan daerah rawan banjir. Desa rawan banjir tersebar di lima kecamatan, yaitu Undaan, Jekulo, Mejobo, Jati, dan Kaliwungu.

Sedang 17 desa merupakan daerah rawan longsor, yaitu Desa Rahtawu, Menawan, Jurang, dan Kedungsari (Gebog), serta Desa Soco, Ternadi, Japan, Kuwukan, Puyoh, Colo, Dukuh Waringin, Cranggang dan Kajar Kecamatan Dawe. “Desa – desa itu berada di kawasan lereng Pegunungan Muria,” kata dia.

Selain itu kawasan hutan pegunungan Kendeng Desa Wonosoco (Undaan), serta sekitar hutan Patiayam di Desa Terban, Godoharum dan Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo.

“Kewaspadaan, kesiapsiagaan dan antisipasi risiko bencana terus kami
tingkatkan, terutama saat cuaca ekstrim atau puncak hujan pada Januari
hingga Februari nanti,” ungkapnya.

Pihaknya kini aktif melakukan sosialisasi dan antisipasi melalui giat bersih- bersih sampah sungai,penguatan tanggul, serta meminta pihak berwenang melakukan normalisasi dan pengecekan pintu air di sepanjang sungai,” ungkapnya.

Selain itu menghimbau seluruh warga agar melakukan pemotongan ranting- ranting pohon di dekat rumah yang membahayakan. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.