Tarif Cukai Naik, 2021 Peredaran Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak

oleh -267 kali dibaca
Kepala KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus, Gatot Sugeng Wibowo (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Kenaikan tarif cukai mulai tahun 2021 depan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan rata-rata 12, 5 persen lebih tinggi. Hal itu diprediksi akan menyebabkan angka kenaikan peredaran rokok ilegal juga meningkat.

Hal teresebut akan menjadi sebuah tantangan bagi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Cukai Kudus, sebab selain menutup beban target pendapatan cukai juga harus mampu memberantas peredaran rokok ilegal.

Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif cukai untuk rokok jenis SKM golongan 1 sebesar 16,9 persen dan sigaret putih mesin (SPM) sebesar Rp 18,4 persen.

Meski demikian pihaknya tetap optimis target perolehan dan eliminasi peredaran rokok ilegal akan berhasil ia tekan dengan kerja keras tim di lapangan.

“Apalagi pada tahun depan akan ada kebijakan PMK yang mendukung Bea dan Cukai dalam menekan peredaran rokok ilegal,” ujar Kepala KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus, Gatot Sugeng Wibowo, saat coffee morning dengan sejumlah awak media di Cafetaria kantornya, Rabu (16/12/2020).

Menurutnya, dengan dukungan kebijakan kenaikan itu diprediksi peredaran rokok ilegal semakin meningkat, seiring dengan kenaikan cukai.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK), kata Gatot, kenaikan tarif cukai 2021 akan diberlakukan mulai 1 Februari 2021 mendatang. Peningkatakan tarif cukai ini, akan berimbas ada Harga Jual Eceran (HJE) rokok. Terutama rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Dampak lainnya, jumlah produksi rokok jenis SKM juga akan mengalami penurunan, sebab konsumen lebih memilih membeli rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan HJE yang lebih murah dibanding SKM.

Hal itu terjadi karena tidak semua perusahaan maupun konsumen, mampu mengikuti kenaikan cukai.

‘’Penurunan produksi rokok SKM ini menjadi tantangan kami, karena pendapatan cukai banyak dari rokok jenis SKM,’’ jelasnya.

Gatot menambahkan, berdasarkan hasil kajian dari Salah satu universitas di Yogyakarta, saat pemerintah menaikkan tarif cukai jumlah produksi rokok ilegal juga akan bertambah hingga 4,86 persen.

“Untuk mengantisipasi hal itu, kami akan lebih gencar lagi melakukan sosialisasi dan penindakan, bekerjasama dengan pemerintah kabupaten dan instansi vertikal,” tuturnya.

Kerjasama ini, lanjutnya, akan mendapat perlindungan hukum dari PMK. Sehingga saat melakukan penindakan, pihaknya akan menggandeng Satpol PP, Polri, TNI hingga Kejaksaan Negeri dan Pengadilan Negeri. Kemudian pelaku usaha rokok ilegal akan diarahkan mengembangkan usaha yang diakui Negara atau legal.

‘’Usaha baru itu nantinya akan menyerap banyak tenaga kerja,’’ ujarnya.

Sementara, Kasi Inteldak KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus, Wicaksono menegaskan, akan lebih gencar lagi melakukan penindakan terkait produksi maupun peredaran rokok ilegal di wilayah kerja KPPBC Cukai Kudus.

Sampai Rabu (16/12), tercata sudah melakukan 77 penindakan, dengan perkirakan nilai barang sekitar Rp 16,6 persen dan potensi kerugian Negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp 10,3 miliar.

‘’Kami akan terus mengoptimalkan penindakan, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,’’ katanya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :