Dampak Pandemi Pemerintah Terapkan Kurikulum Merdeka Gantikan Kurikulum 2013

oleh -406 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Selama masa pandemi covid-19. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melarang semua sekolah melaksanakan belajar tatap muka. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan anak didik agar terhindar dari “serangan” virus covid-19.

Akan tetapi agar proses belajar mengajar tetap bisa berjalan, pemerintah mengeluarkan kebijakan pembelajaran melalui jaringan atau lebih dikenal dengan istilah daring (dalam jaringan). Artinya, siswa tetap berada dirumah sedang materi pembelajaran diberikan melalui internet.

Setelah pemerintah menyatakan masa pandemi berakhir, maka pembelajaran tatap muka atau dikenal dengan istilah Luring (luar jaringan) kembali diperbolehkan dengan mengutamakan protokol kesehatan yang didahului dengan vaksin untuk anak.

Akibat pembatasan tersebut, banyak pihak mengkhawatirkan terjadinya fenomena lost generation (generasi yang hilang) dampak kurang optimalnya pendidikan tatap muka (PTM) atau lost learning. Data yang dihimpun media ini, dalam beberapa survey pembelajaran jarak jauh (daring) yang dilakukan selama pandemi dinilai kurang efektif. Seperti survey yang dilakukan UNICEF (United Nations Children’s Fund) atau Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, 66 persen peserta didik tidak nyaman dengan pembelajaran jarak jauh atau daring.

Karena berbagai pertimbangan tersebut, Kemendikbudristek mengeluarkan aturan agar sekolah menjalankan kurikulum merdeka menggantikan kurikulum 2013 (K13) yang sebelum masa pandemi diterapkan untuk proses belajar mengajar. Kebijakan tersebut sudah dilaksanakan selama satu semester.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Harjuno Widada, didampingi Sekdin Moh Zubaidi dan Kabid Dikdas, Anggun Nugroho, kepada isknews.com mengatakan, setelah Kurikulum Merdeka dilaksanakan satu semester saat sekarang dilakukan evaluasi.

“Evaluasi kita lakukan untuk mengetahui apakah ada kendala dan sudah sejauh mana pelaksanaan dan hasilnya,” katanya.

Menurutnya, kurikulum merdeka memiliki banyak kelebihan dibanding kurikulum sebelumnya. Pada Kurikulum Merdeka siswa atau anak didik diberikan keleluasaan mengembangkan minat dan bakatnya. Demikian juga bagi guru, juga mendapat kebebasan berinovasi karena minat dan bakat siswa yang beragam.

Dengan diterapkannya kurikulum baru ini, pihaknya berharap tingkat kemampuan anak didik meningkat setelah pendidik mampu mengarahkan minat dan bakatnya meningkatkan intelegensianya. Sedang evaluasi dilaksanakan di Pusat Pembelajaran Guru (PBG) secara bergantian per koordinasi wilayah (korwil) atau per kecamatan.

“Harapan kami generation lost akibat learning lost bisa teratasi dan kurikulum merdeka ini mampu meningkatkan pendidikan anak anak kita untuk kemajuan bangsa dan negara nantinya,” pungkasnya. (jos)

KOMENTAR SEDULUR ISK :