Dari Semarang, Jepara hingga Kudus, Pipiek Isfianti Tuangkan Perjalanan dalam Buku Puisi

oleh -214 Dilihat
Penulis sekaligus pegiat teater Pipiek Isfianti memperkenalkan buku kumpulan puisinya yang menghimpun 42 karya dari perjalanan hidupnya di Semarang, Jepara, hingga Kudus. (Foto: ist)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Perjalanan hidup yang melewati tiga kota, Semarang, Jepara, dan Kudus, dituangkan Pipiek Isfianti dalam sebuah buku kumpulan puisi. Sebanyak 42 puisi yang terangkum di dalamnya menjadi rekam jejak perjalanan penulis sekaligus pegiat teater tersebut selama bertahun-tahun.

Buku puisi itu diluncurkan bersamaan dengan diskusi sastra. Karya tersebut menjadi buku tunggal kelima Pipiek, sekaligus menjadi karya puisi tunggal pertamanya setelah sebelumnya lebih banyak menghasilkan tulisan dalam bentuk prosa.

Pipiek mengatakan, lahirnya buku tersebut bermula dari keinginannya mengumpulkan karya-karya yang selama ini tersebar di berbagai media. Puisi-puisi itu ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang sehingga sebagian di antaranya sempat tercecer dan tidak terdokumentasikan dengan baik.

“Awalnya saya hanya ingin mengumpulkan karya-karya yang tercecer di banyak media, karena rentang waktunya beragam,” kata Pipiek.

Beberapa puisi dalam buku tersebut bahkan telah ditulis sejak sekitar 1999, ketika Pipiek masih menetap di Semarang. Karya-karyanya kemudian terus berkembang saat ia tinggal di Jepara hingga akhirnya menetap di Kudus.

“Tiga kota ini mewarnai perjalanan puisi-puisi saya,” ujarnya.

Menurut Pipiek, kumpulan puisi tersebut tidak hanya menggambarkan perpindahan tempat tinggal. Berbagai pengalaman yang ia lalui turut membentuk tema dalam puisinya, mulai dari luka, kerinduan, pencarian jejak, hingga perenungan spiritual.

Ia memandang perjalanan mencari jejak dalam kehidupan pada akhirnya berkaitan dengan pencarian spiritual. Perjalanan manusia, menurutnya, akan bermuara pada upaya kembali kepada Sang Pencipta sekaligus memahami dirinya sendiri.

“Pada akhirnya kita pulang kepada Pencipta dan pulang kepada diri sendiri. Perjalanan panjang, perjalanan apa pun yang kemudian kita jalani, sebenarnya adalah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta,” tuturnya.

Pipiek mengaku selama ini lebih nyaman menulis cerpen dibandingkan puisi. Baginya, puisi selama bertahun-tahun lebih banyak menjadi ruang personal untuk menuangkan perasaan dan tidak selalu ditujukan untuk dipublikasikan.

Keinginan menerbitkan buku puisi tersebut kemudian semakin kuat setelah mendapat dorongan dari rekan-rekannya, khususnya komunitas Segitiga Teater. Karya-karya yang sebelumnya hanya tersimpan atau tersebar dinilai memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan, seperti musikalisasi puisi maupun perlombaan.

Dukungan tersebut perlahan membuat Pipiek mengubah pandangannya terhadap karya puisinya sendiri. Dari semula merasa kurang percaya diri, ia akhirnya memberanikan diri menerbitkan kumpulan puisinya dalam bentuk buku.

“Dari ketidakpercayaan diri kemudian menjadi percaya diri. Orang mau menganggap saya apa, terserah. Yang penting saya punya buku,” katanya.

Berangkat dari Pengalaman

Pipiek mengatakan sebagian besar karyanya tidak lepas dari pengalaman pribadi maupun cerita orang-orang yang berada di sekitarnya. Sejak masih kecil, ia mengaku sering menjadi tempat bagi teman maupun orang lain untuk mencurahkan cerita.

Berbagai kisah tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi dalam proses menulis. Tidak hanya cerita personal, sejumlah peristiwa yang diberitakan media massa juga kerap menjadi pemantik ketika menyentuh persoalan sosial dan kemanusiaan.

“Saya merasa seperti tempat sampah untuk energi negatif. Energi itu kemudian saya salurkan, saya tuangkan menjadi karya,” ungkapnya.

Dalam diskusi peluncuran buku, penyair sekaligus sutradara Asa Jatmiko menilai kehadiran karya Pipiek memiliki arti penting bagi perkembangan sastra di Kudus.

Menurut Asa, kiprah Pipiek tidak terbatas pada dunia puisi. Ia juga aktif dalam teater dan film sehingga pengalaman tersebut menjadi modal berharga untuk mendorong generasi muda agar lebih dekat dengan dunia seni dan sastra.

“Teman-teman yang muda bisa belajar banyak dari pengalaman dan karya-karya Pipi,” kata Asa.

Ia juga melihat peluncuran buku tersebut sebagai momentum untuk kembali menghidupkan aktivitas sastra di Kudus. Menurutnya, perkembangan seni teater di daerah tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan regenerasi dan geliat sastra.

“Teaternya berkembang, tetapi sastranya justru hari ini sangat gersang,” ujarnya.

Karena itu, Asa berharap semakin banyak forum literasi, panggung sastra, maupun kegiatan kepenulisan yang dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkarya.

Ia menilai gerakan tersebut tidak harus selalu menunggu dukungan pemerintah atau pemangku kepentingan. Komunitas juga dapat mengambil peran dengan membuka ruang bagi anak-anak muda untuk membaca, berdiskusi, menulis, dan mempresentasikan karya mereka.

Sementara itu, Pipiek mengajak generasi muda untuk tidak ragu menulis hanya karena takut mendapat penilaian negatif dari orang lain. Menurutnya, keberanian untuk memulai jauh lebih penting daripada terlalu memikirkan bagaimana karya tersebut akan dinilai.

“Kalau kita ingin menulis, kalau kita ingin mengeluarkan perasaan, tulis saja. Nanti suatu saat tulisan itu akan menjadi sejarah penting dalam hidup kita,” katanya.

Pipiek merupakan penulis kelahiran Semarang yang mulai mengenal dunia kepenulisan sejak duduk di bangku SMP. Minatnya terhadap dunia menulis semakin berkembang ketika ia menempuh pendidikan di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.

Sejumlah karya yang telah diterbitkannya antara lain kumpulan cerpen Perempuan yang Membenci Hari Minggu (2023), 3 Lakon Monolog (2022), Lelaki yang Ditunggu dari Balik Jendela (2021), serta antologi puisi Perempuan Menanak Sajak (2019). (AS/YM)