Di Kudus 300 Dirawat Di RS 2 Meninggal Dunia Akibat DBD

oleh

Kudus, isknews.com – Penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Kabupaten Kudus, kembali menelan koban jiwa. Dalam kasus yang terjadi selama Januari 2017 yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, sebanyak 300 orang dirawat di rumah sakit (RS). Dari kasus DBD sejumlah itu, terdapat korban meninggal dunia sebanyak dua orang.

Kepala DKK Kudus, Joko Dwi Putranto, melalui Kepala Seksi (Kasie) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Subiyono, yang dihubungi isknews.com, Kamis (02/2), di ruang kerjanya, membenarkan hal itu. Menurut dia, angka 300 adalah jumlah kasus DBD yang terjadi selama Januari 2017, berdasarkan jumlah penderita DBD yang dirawat di rumah sakit atau puskesmas, di Kabupaten Kudus. Lokasi terjadinya kasus DBD menyebar di hampir semua desa di Kabupaten Kudus. “Untuk korban yang meninggal dunia sebanyak 2 orang, warga dari desa di Kecamatan Dawe.”

Dalam upaya mengurangi kasus dan jatuhnya korban jiwa yang diakibatkan oleh DBD, ungkapnya lanjut, adalah dengan fogging hampir setiap hari. Namun pihaknya merasa perlu memberikan penjelasan kepada masyarakat awam, fogging dilakukan oleh DKK bukan atas permintaan masyarakat yang terduga terjadi kasus DBD. Penyemprotan dengan tujuan memutus mata rantai pertumbuhan DBD itu, adalah berdasarkan adanya kejadian kasus DBD di suatu tempat yang diperoleh dari hasil analisa epidomologi.

Dari hasil analisa itu, DKK pun melanjutkan dengan penyelidikan epidomologi di desa atau pemukiman yang terjadi kasus dan korban jiwa akibat DBD. Kriterianya adalah sebagai berikut, ada tambahan 2 atau lebih kasus DBD dalam periode 3 minggu yang lalu, adanya tambahan kasus DBD yang meninggal dalam periode yang sama, adanya tambahan kasus DBD 1 orang dan 3 kasus panas tanpa sebab jelas, dalam periode yang sama serta HI ( hemagglutination inhibition test= uji hambatan hemaglutinasi ) 5%, adanya tambahan kasus DBD 1 orang dengan indeks meninggal, serta adanya tambahan 1 kasus DBD dengan HI 5%.

“Bila terpenuhi kriteria 1 atau 2 atau 3 atau 4, bisa dilakukan fogging difokuskan seluas 1 RW/Dukuh, pada sekitar 300 rumah, atau seluas 16 hektare sebanyak 2 siklus dengan interval 7-10 dan PSN diluar dan di dalam rumah,” jelas Subiyono.
Mengenai adanya permintaan masyarakat agar desa atau tempat tinggalnya di fogging karena ada penderita DBD, Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular itu, menerangkan untuk bisa mengetahui ada dan tidaknya penderita DBD, harus dibuktikan melalui pemeriksaan di laboratorium. “Kalau memang terbukti ada atau terjadi kasus DBD, tanpa diminta pun DKK akan mengirimkan petugas untuk melakukan fogging.” (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
TRENDING :  Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Perlu Partisipasi Semua Pihak