Kudus, isknews.com – Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kudus mengadakan dialog interaktif dalam rangka menyukseskan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kudus 2024. Acara ini digelar bekerja sama dengan Majelis Hukum dan HAM serta Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah, bertempat di Aula Muhammadiyah Kudus. Kegiatan ini menghadirkan kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kudus, Sabtu (12/10/2024).
Ketua PDA Kudus, Eny Alifah Kurnia, M.PdI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dialog ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang visi dan misi dari calon bupati kepada seluruh anggota ‘Aisyiyah. Dengan adanya penyampaian visi dan misi ini, diharapkan informasi tersebut dapat disebarluaskan hingga ke tingkat cabang dan ranting.
“Perempuan harus melek politik dan memilih yang terbaik,” tegas Eny Alifah.
Ia menambahkan bahwa peran perempuan sangat penting dalam menentukan masa depan Kabupaten Kudus, dan dengan pemahaman yang baik, mereka dapat membuat keputusan yang bijak.
Eny Alifah juga mengingatkan pentingnya tujuh karakter perempuan berkemajuan yang harus dimiliki oleh anggota ‘Aisyiyah.
“Karakter tersebut meliputi iman dan taqwa, ketaatan beribadah, akhlak karimah, berpikir tajdid, bersikap wasatiyah, beramal saleh, dan bersikap inklusif,” tuturnya.
Dialog tersebut dihadiri oleh pasangan calon bupati dan wakil bupati dari nomor urut 1, Sam’ani Intakoris dan Bellinda Putri Sabrina Birton, serta pasangan nomor urut 2, Hartopo dan Mawahib. Kedua pasangan diberikan kesempatan untuk menyampaikan visi dan misi mereka di hadapan peserta yang hadir.
Pasangan nomor urut 1, Sam’ani Intakoris dan Bellinda Putri Sabrina Birton, mengusung visi “Menuju Masyarakat Kudus Sejahtera, Harmoni, dan Taqwa.” Mereka menekankan pentingnya keharmonisan dan kesejahteraan masyarakat yang dilandasi nilai-nilai keagamaan.
Sementara itu, pasangan nomor urut 2, Hartopo dan Mawahib, menyampaikan visi mereka yang berbunyi, “Kudus Berkeadaban, Maju, Berkah, dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045.” Mereka menyoroti pentingnya keberlanjutan dan keberkahan dalam setiap program pembangunan yang akan dijalankan.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada kedua pasangan calon. Mereka tidak hanya bertanya tentang program-program konkret, tetapi juga bagaimana calon bupati akan mewujudkan visi tersebut dalam realitas pemerintahan.
Kedua pasangan calon memberikan jawaban yang jelas dan detail, menunjukkan komitmen mereka terhadap pembangunan Kudus. Suasana dialog pun berlangsung sangat interaktif, di mana peserta bisa berinteraksi langsung dengan calon pemimpin mereka.
Kegiatan ini menjadi sarana yang efektif untuk mempertemukan para calon bupati dengan masyarakat ‘Aisyiyah, sekaligus memperkuat partisipasi perempuan dalam proses politik di Kabupaten Kudus. (YM/YM)










