Disbudpar Kudus Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Pelestarian Budaya

oleh -172 Dilihat
Kabid Kebudayaan Disbudpar Kudus, Arief Zuli Tanjung, memaparkan strategi pemanfaatan teknologi untuk pelestarian budaya dalam Talkshow Budaya & Pariwisata Kudus 4.0 di UMK. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Kemajuan teknologi dan arus globalisasi membawa tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian budaya daerah. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Arief Zuli Tanjung, S.T., M.T., dalam Talkshow Budaya & Pariwisata Kudus 4.0 yang digelar di Pojok Kekudusan Perpustakaan Universitas Muria Kudus (UMK) lantai 3, Selasa (12/8/2025).

Mengusung tema “Menyatukan Inovasi Digital dan Pelestarian Budaya Menuju Pariwisata Unggul”, acara ini mempertemukan akademisi, pelaku pariwisata, komunitas budaya, hingga generasi muda. Menurut Arief, perkembangan teknologi telah mengubah pola konsumsi budaya, terutama di kalangan anak muda.

“Jika tidak ada strategi adaptasi yang tepat, minat terhadap tradisi dan seni lokal bisa menurun. Teknologi justru harus kita jadikan sarana untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan mengedukasi masyarakat tentang budaya Kudus,” jelasnya.

Arief mencontohkan penerapan inovasi digital dalam pelestarian budaya, antara lain pembuatan virtual tour destinasi budaya, digitalisasi arsip kesenian, promosi event budaya di media sosial, hingga penguatan peran konten kreator lokal yang fokus pada potensi daerah.

Selain dari Disbudpar, talkshow ini juga menghadirkan konten kreator pariwisata, Fifi Lia Rumita, S.Pd., yang membagikan tips mengemas potensi wisata Kudus dalam bentuk konten digital yang menarik dan edukatif.

Sementara itu, Penyelenggara acara, Kepala Perpustakaan Universitas Muria Kudus (UMK), Firman Al-Mubaraq, S.Hum., menjelaskan bahwa nama “Kudusan” dipilih karena ingin menjadikannya sebagai pusat informasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui Kudus secara menyeluruh. Mulai dari aspek budaya, literasi, sejarah, hingga kuliner, semua dirangkum di satu tempat agar mudah diakses masyarakat.

“Harapannya, ketika orang ingin mencari tahu tentang Kudus, yang pertama kali terlintas di pikiran mereka adalah tempat ini. Karena itu kami menghadirkan banyak koleksi, termasuk replika makanan khas seperti soto Kudus, lentok, dan barek Kudus,” ungkapnya.

Firman menambahkan, kegiatan yang digelar di Pojok Kudusan Perpustakaan UMK kali ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Meski target awal hanya 50 peserta, jumlah yang hadir membludak hingga mencapai 60–70 orang. “Awalnya mayoritas peserta dari kalangan mahasiswa, tapi ternyata banyak juga masyarakat umum yang hadir, termasuk para penggiat budaya. Bahkan ada yang datang langsung tanpa mendaftar,” jelasnya.

Ia berharap, keberadaan kegiatan ini dapat mendekatkan generasi muda, khususnya warga Kudus, pada budaya daerahnya. “Paling tidak, mereka tetap memiliki identitas sebagai orang Kudus. Jangan sampai nilai-nilai budaya kita luntur,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :