Disbudpar Kudus Gelar Pembinaan dan Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME

oleh

Kudus, isknews.com – Pembinaan dan Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME telah diselenggarakan oleh Dinas kebudayaan dan pariwisata Kudus di Gedung Kesenian Taman Budaya Bae, Senin, 13 Maret 2017.

Pembinaan dan sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai perwujudan perekat persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkokoh jatidiri budaya bangsa ditengah peradaban global.

Pembinaan dan sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai perwujudan perekat persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkokoh jati diri budaya bangsa ditengah peradaban global.

Peserta yang berjumlah 100 orang ini terdiri dari 9 paguyuban penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa termasuk sedulur sikep atau Samin dan DPD HPK Kabupaten Kudus.

Tim Pembina / Narasumber Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Instani terkait dan DPD HPK Kabupaten Kudus

Acara dimulai dengan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya oleh Ibu Retno Darmilah, S.H, kemudian Pembacaan Pancasila oleh Ketua DPD HPK Kabupaten Kudus Bapak Sukamto dan Mengheningkan Cipta oleh Bpk. Suratno Sesepuh Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran.

Selanjutnya, Laporan Ketua Panitia oleh Kepala Seksi Seni, Tradisi dan Bahasa dilanjutkan Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabudayaan Kudus Bapak Drs. Yuli Kasiyanto, M. Pd dilanjutkan pembukaan secara resmi dimulainya kegiatan Pembinaan dan Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap TuhanYang Maha Esa.

TRENDING :  Car Free Day Sebagai Sarana Ekspresikan Diri

Setelah istirahat, acara dilanjutkan dengan Pembinaan dan Sarasehan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dilanjutkan dialog interaktif.

Yuli Kasianto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kabid Kebudayaan, Rofiq, mengatakan, “Salah satu keunikan dan sekaligus kekhasan bangsa dalam kedudukannya sebagai bagian dari bangsa bangsa di dunia adalah karakter wilayahnya yang luas baik daratan maupun lautan dengan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

Manusia dengan budinya akan mampu mengendalikan diri, mawas diri sehingga semua manifestasi perbuatan tingkah laku, tutur kata dan sikap dalam kehidupannya akan selalu menampilkan budi pakerti luhur.

Sikap – sikap tersebut yang harus dikembangkan dalam dirinya, hal ini untuk menunjukan identitas pribadinya yang berbudi luhur.

Sifat – sifat luhur yang dapat dimiliki oleh manusia, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Cinta kasih ( menghargai sesama makluk hidup )
2. Kejujuran (jujur dan bersahaja )
3. Kesabaran ( sabar dan penuh pengertian )
4. Iklas ( sadar akan semestinya )
5. Pengabdian yang tinggi ( dalam hal kebenaran )
6. Narimo ( sadar akan dirinya )
7. Pengendalian diri ( didalam hal kemajuan )
8. Tepo sliro ( adil dan beradab )
9. Keberhasilan dalam mengatur hidupnya.

Pencerminan budi pakerti luhur itulah yang menunjukan karakter sifat pribadi seseorang yang menjadikan manusia berwibawa dan disegani serta dihormati oleh orang lain. Budi luhur bukan merupakan hal yang diajarkan atau dilatihkan kepada manusia melainkan sesuatu penilaian yang serasi dengan budaya dan tata tertib manusia dalam jalinan tata kehidupan bersama sebagai akibat yang ditimbulkan oleh sikap, ucapan, sesuatu pakerti manusia itu sendiri. Dalam hal ini sesuai dengan wewarah jawa yang berupa tembang mijil, sebagai berikut, Dedalane guna lawan sekti, Kudu andhap asor, Wani ngalah, Luhur wekasane, Tumungkulo yen dipun dukani, Bapang den simpangi, Ana catur mungkur “.

TRENDING :  Jalan Menuju desa Wisata Rahtawu Macet

Artinya, Kita harus merendahkan diri dalam arti tidak sombong ( takabur ) tidak memeliki watak adigang, adigung, adiguna mengalah bukan berarti kalah. Disamping itu jika ada sesuatu perkara harus dipikir dan dimusyawarahkan lebih dahulu dengan kejernihan hati,

Ada perkara yang kecil jangan malah dibesar – besarkan, kita harus sabar dan menghindarkan hal-hal atau perkara yang tidak baik. Dari wewarah ini ditekankan bahwa dalam hidup bermasyarakat harus dapat menerapkan diri, harus tahu suba sita (tata cara), celathu( perkataan ), laku ( perbuatan ), patrap ( tingkah laku ) dan sopan santun ( budi pakerti ) didalam pergaulan dimasyarakat, tiap pribadi manusia harus dapat mengendalikan diri, mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain serta mawas diri kita sendiri apak perbuatan kita benar atau salah.

TRENDING :  Wisatawan Diminta Jaga Kebersihan Pulau Panjang

Setiap manusia pada dasarnya mempunyai perasaan yang sama, yaitu menginginkan hidup yang aman, tentram, tenang, selamat didunia dan akherat. Hal ini dapat terwujud dengan cara saling mencintai sesama makluk (tresno asih marang sesama), hidup rukun dan gotong-royong, saling menghormati, tidak Membeda – bedakan sesama makluk hidup karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan, Rofiq melalui Seksi Seni, Tradisi dan Bahasa, Giyono, Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala atau yang mewakili dari Kejaksaan Negeri Kudus, Kepolisian Resort Kudus, Dinas Kependudukan dan Pecatatan Sipil Kabupaten Kudus, Disdikpora Kab. Kudus, Kantor Kesbangpol Kab. Kudus, DPD HPK Kabupaten Kudus, Paguyuban Penghayat Kepercayaan Terhadap TuhanYang Maha Esa, Kadang Sedulur Sikep, Para sesepuh dan seluruh warga penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang kami hormati, kami cintai dan kami banggakan.

Mudah – mudahan melalui kegiatan pembinaan dan sarasehan ini akan dapat menyemangati kita semua dalam melestarikan dan mengembangkan nilai – nilai luhur budaya bangsa, sehingga dapat ditumbuh-kembangkan rasa persatuan dan kesatuan, cinta dan bangga terhadap nusa, bangsa, negara yang senantiasa dilimpahi keselamatan, ketentraman, kedamaian dalam rindlo Tuhan Yang Maha Esa. (AJ/isknews.com)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.