Disdikpora Kudus Dorong Penerapan STEM di Sekolah, PAUD Terpadu Kalirejo Jadi Pilot Project

oleh -243 Dilihat
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus mendorong penerapan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) di berbagai jenjang pendidikan. PAUD Terpadu Kalirejo menjadi salah satu sekolah yang dinilai telah lebih matang dalam menerapkan konsep tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan penerapan STEM di PAUD Terpadu Kalirejo telah berjalan sejak awal. Sekolah tersebut juga menjadi salah satu lokasi pelaksanaan pilot project yang didukung Djarum Foundation serta menjadi tempat pelaksanaan pusat belajar guru.

Hal itu disampaikan Anggun saat diwawancarai pada Kamis (3/9/2026), seusai menghadiri peluncuran STEM di Medini, Kudus.

“PAUD Terpadu Kalirejo ini sudah jalan. Mereka sudah menerapkan dari awal. Penerapannya mungkin pilot project dari Djarum Foundation, pusat belajar guru juga dilaksanakan di sini,” ujar Anggun.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat penerapan STEM di SMP Terpadu Kalirejo relatif lebih matang dibandingkan dengan sekolah lainnya di Kabupaten Kudus.

Meski demikian, Disdikpora Kudus berencana memperluas penerapan konsep pembelajaran tersebut secara bertahap. Guru-guru akan mendapatkan pembekalan agar memiliki pemahaman yang memadai mengenai pembelajaran berbasis STEM.

“Nanti secara bertahap, ini kan butuh pembekalan juga untuk guru-guru kita. Guru-guru kita nanti biar diberikan pembekalan juga terkait STEM ini. Nanti di tingkat SD, SMP juga segera kita promosikan,” katanya.

Anggun menambahkan, penerapan STEM tidak harus identik dengan penggunaan teknologi atau peralatan yang mahal. Justru, konsep tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Ia menyebut terdapat lima prinsip yang dapat menjadi dasar dalam pelaksanaan pembelajaran, yakni murah, mudah, menggembirakan, meaningful atau bermakna, serta mindful.

“Konsepnya mungkin lebih banyak ke arah kegiatan-kegiatan yang menggunakan lima prinsip tadi, murah, mudah, menggembirakan, meaningful, sama mindful,” jelasnya.

Sebagai contoh, pembelajaran dapat mengambil isu lingkungan seperti persoalan sampah. Siswa dapat diajak memanfaatkan barang-barang bekas sebagai bagian dari kegiatan belajar sekaligus mencari solusi terhadap persoalan di lingkungan sekitar.

“Misalnya kita sedang isu sampah, ya sudah nanti ada penggunaan barang-barang bekas untuk mendukung pelaksanaan,” ungkap Anggun.

Ia menjelaskan, sejauh ini sekolah yang secara khusus mengemas pembelajarannya dengan sebutan program STEM masih terbatas. Namun, bukan berarti sekolah lain belum menerapkan prinsip-prinsip yang ada dalam STEM.

“Kalau yang terkonsep benar-benar, maksudnya yang ada penyebutan STEM, ya baru ini. Tapi kalau di sekolah yang lain mungkin sudah dilaksanakan satu-dua, cuma kemasannya mungkin belum dikemas jadi program STEM,” ujarnya.

Untuk memperkuat pelaksanaan program, Disdikpora Kudus akan membangun kemitraan dengan Djarum Foundation dan Pusat Belajar Guru. Dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga diharapkan dapat membantu pengembangan program tersebut.

Selain konsep pembelajaran, Anggun menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penerapan STEM. Ia mengakui masih terdapat kekurangan SDM di sejumlah bidang pendidikan.

“Kalau dari sisi jumlah mungkin masih kurang. Tapi mudah-mudahan nanti bisa membantu mendata kekurangannya berapa, idealnya berapa, jadi nanti ada intervensi dari pemerintah kabupaten,” katanya. (AS/YM)