Kudus, isknews.com – Dua generasi atlet shorinji kempo Papua Barat, Hilda Christina Blandina dan Kelvin Saweri, menunjukkan semangat luar biasa di ajang PON Bela Diri Kudus 2025. Meski berasal dari latar dan usia berbeda, keduanya sama-sama menorehkan prestasi gemilang: Kelvin meraih medali emas di nomor randori perorangan kelas 75 kg, sementara Hilda menutup kariernya sebagai atlet dengan medali perunggu di kelas 55 kg.
Bagi Kelvin, kemenangan tersebut menjadi momen tak terlupakan. Menghadapi laga final yang menegangkan melawan Donatus Fios dari NTT, ia sempat dilanda kecemasan. Namun, semangat pantang menyerah membawanya ke podium tertinggi.
“Saya cemas sejak babak awal, tapi terus bangkit. Di final saya melawan atlet hebat dari NTT. Kami sama-sama orang Timur, punya karakter keras dan jiwa kuat. Saya sangat senang bisa menang,” ujar Kelvin penuh haru.
Raihan emas ini menjadi sejarah baru bagi tim shorinji kempo Papua Barat, sebagai medali emas pertama yang berhasil mereka bawa pulang dari ajang multi-cabang nasional tersebut.
Sementara itu, bagi Hilda Christina Blandina, perjuangan di Kudus memiliki makna mendalam. Setelah lebih dari dua dekade berkarier di dunia kempo, perempuan yang juga bertugas di Dinas Pemuda dan Olahraga Papua Barat ini resmi mengakhiri perjalanan panjangnya di atas tatami.
“Puji Tuhan, ini medali terakhir saya. Saya sudah mulai dari usia 12 tahun dan menutupnya di Kudus dengan perunggu. Usia saya sudah 35 tahun, tapi saya bangga masih bisa memberi yang terbaik untuk Papua Barat,” ungkap Hilda dengan mata berbinar.
Hilda mengaku telah menyiapkan diri secara mandiri selama tiga bulan sebelum bergabung dengan tim. Meski persiapannya tidak panjang, ia merasa hasil yang diraih merupakan buah dari ketekunan dan doa. Usai pensiun, Hilda berencana mengabdikan diri sebagai pelatih usia dini, membina generasi muda Papua Barat agar terus menorehkan prestasi.
Perjalanan panjang dari Sorong menuju Kudus tak mengendurkan semangat keduanya.
“Perjalanan kami jauh sekali. Dari Sorong ke Makassar, lanjut Jakarta, Semarang, lalu ke Kudus naik bus. Tapi kami sudah terbiasa. Capeknya terbayar waktu dapat medali,” kelakar Kelvin.
Selama di Kudus, keduanya mengaku kagum dengan keramahan masyarakat dan penyelenggaraan PON Bela Diri.
“Warga di sini luar biasa ramah. Anak-anak sekolah bahkan menyapa kami saat latihan. Mereka antusias sekali,” tutur Kelvin.
“Fasilitas di Djarum Arena juga luar biasa. Kudus kota yang bersejarah, apalagi melahirkan banyak atlet bulu tangkis dunia. Saya bangga bisa bertanding di sini,” tambah Hilda.
Meski berbeda generasi, semangat keduanya sejalan: berjuang, menginspirasi, dan membawa harum nama Papua Barat. Hilda menutup kariernya dengan kebanggaan, sementara Kelvin membuka babak baru sebagai bintang muda yang siap menorehkan sejarah berikutnya. (AS/YM)






