Kudus, isknews.com – Rumah Makan Gasasa, salah satu tempat makan ikonik di Kudus, tidak hanya terkenal dengan sajian garang asamnya, tetapi juga cerita sederhana di balik dapurnya, bagaimana sampah diolah dengan lebih baik. Dari yang semula bercampur menjadi satu, kini seluruh sampah sudah dipilah dan memberi manfaat. Transformasi ini tidak lepas dari kemitraan Rumah Makan Gasasa dengan program Kudus Asik dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation.
Rumah Makan Gasasa kini merasakan perubahan besar dalam pengelolaan sampahnya. Dari yang dulu bercampur tanpa pemilahan, kini seluruh sampah sudah ditata rapi dan dikelola lebih efektif berkat pendampingan dan fasilitas dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation.
Diketahui, Rumah Makan Gasasa telah menjadi mitra Kudus Asik sejak 2019. Yuli Asmoro, pemilik RM Gasasa, mengungkapkan bahwa restorannya dulu belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang tertata. “Dulu semua campur jadi satu. Plastik, daun, kertas, semua piur kami buang begitu saja,” ujarnya kepada isknews.com, (22/11/2025).
Namun kondisi itu berubah setelah Gasasa dipilih menjadi pilot project atau salah satu resto percontohan pengelolaan sampah organik. Sejak saat itu, pemilahan sampah dilakukan mulai dari troli, area dapur, hingga bagian belakang. Setiap troli memiliki dua tong terpisah untuk daun pisang dan tulang, serta untuk kertas, tisu, dan plastik. Sementara di dapur, tong khusus sampah basah disediakan langsung oleh Kudus Asik. “Kalau di depan masih kecampur, di belakang masih ada yang milah lagi,” jelas Yuli.
Pengambilan sampah dilakukan rutin setiap dua hari sekali, biasanya pukul 08.30–09.00 WIB. Gasasa juga menerima dukungan berupa empat tong besar dan dua tong kecil dari Kudus Asik. “Tongnya diganti setiap pengambilan, dibersihkan dan ditutup rapat. Jadi sangat membantu,” tambahnya.
Selain membuat lingkungan kerja lebih bersih, Yuli merasakan manfaat lain seperti berkurangnya bau sampah organik dan menurunnya biaya operasional. “Yang harusnya saya buang setiap hari, sekarang dua hari sekali dan sudah dipilah makin sedikit. Plastik-plastik pun bisa dikumpulkan lagi dan dijual,” katanya.
Sebelum bermitra, sebagian sampah Gasasa harus dibuang ke TPA Tanjungrejo yang kini mulai penuh. Bahkan, sebagian lainnya terpaksa dibakar di lahan kosong miliknya. “Sekarang jauh lebih mudah. Sampah organik itu cepat bau, jadi kalau tidak ada lahan memang repot. Kami sangat terbantu,” tegas Yuli.
Kini, RM. Gasasa menjadi salah satu dari 400 mitra aktif Kudus Asik, bersama hotel, katering, rumah sakit, dapur MBG dan usaha kuliner lainnya. Ia berharap program serupa bisa diperluas hingga tingkat rumah tangga. “Bukan hanya resto, rumah tangga pun akan sangat terbantu,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Pusat Pengolahan Organik Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Timothy Ariel Saputra, menjelaskan bahwa program Kudus Asik telah berjalan sejak 2018. Masyarakat cukup melakukan satu langkah sederhana, yakni memilah sampah organik dan anorganik. “Program ini gratis, tidak ada pungutan biaya. Tinggal mau memilah saja,” ujarnya.
Kudus Asik melayani pengambilan sampah organik setiap hari pukul 07.00–15.00 WIB dengan sepuluh truk operasional, mengangkut hingga 50 ton per hari untuk diolah menjadi pupuk. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi beban TPA Tanjungrejo dan menyelesaikan masalah sampah organik di Kabupaten Kudus.
“Pengalaman Rumah Makan Gasasa membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Dengan dukungan fasilitas, edukasi, dan pengangkutan terjadwal, pengelolaan sampah kini menjadi lebih mudah, efisien, dan berkelanjutan. Sebuah praktik sederhana dari dapur Gasasa yang kini memberi dampak besar bagi lingkungan Kudus,” pungkasnya. (AS/YM)






