Festival Sewu Kupat di Colo Muria Kembali Digelar, 23 Gunungan Diarak

oleh -1,396 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Festival Sewu Kupat Muria kembali dilaksanakan setelah beberapa tahun absen akibat Covid-19. Penjabat Bupati Kudus Muhamad Hasan Chabibie mengawali tradisi Sewu Kupat dengan ziarah ke makam Sunan Muria di Colo, Dawe, Rabu (17/4) pagi.

Hasan hadir bersama Kapolres Kudus AKBP Dydit Dwi Susanto dan Dandim 0722/Kudus Letkol Inf Andreas Yudhi Wibowo. Dilanjutkan dengan pelepasan kirab gunungan.

Peserta kirab berasal dari sejumlah ormas dan perwakilan desa se-Kecamatan Dawe. Sehingga, ada 23 gunungan yang dibawa oleh peserta. Gunungan berisi ketupat, lepet, dan hasil bumi. Setelah dikirab, gunungan dikumpulkan di Taman Ria Colo.

Dalam sambutannya, Hasan mengapresiasi tradisi lokal Kudus Sewu Kupat Muria yang digelar meriah. Pj. Bupati menuturkan, kearifan lokal itu harus terus dilestarikan agar khazanah budaya Kudus makin berkembang.

“Sewu Kupat juga sebagai bentuk syukur yang kemudian kita harapkan masyarakat Kudus semakin makmur dan selalu dalam lindungan Allah. Oleh karena itu kami ucapkan apresiasi atas semua agenda, bahwa kita sudah nguri-nguri tradisi ini, sehingga bisa menambah daya tarik wisata yang ujungnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Hasan.

Acara semakin lengkap dengan kehadiran Anggota DPR RI sekaligus pemrakarsa Sewu Kupat Muria Musthofa beserta Ketua DPRD Kudus Masan.

Anggota DPR RI yang sekaligus penggagas Tradisi Sewu Kupat, Mustofa mengajak warga untuk uri-uri budaya, Bahkan, ada ataupun tanpa adanya dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

“Jadi harapan saya siapapun pejabatnya, agenda ini akan selalu berjalan. Karena ini adalah milik warga,” kata Mustofa yang juga mantan Bupati Kudus Periode 2008-2018 tersebut.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Sewu Kupat, Muhammad Antono menambahkan bahwa festival ini akan kembali diselenggarakan rutin setiap tahun. Bahkan pihaknya akan membuat festival lebih meriah lagi dan menambah durasi hari sebagai daya tarik wisata di Desa Colo.

“Tradisi ini selain untuk nguri-uri budaya, multi player effectnya bisa mendorong tingkat kunjungan pariwisata dan ekonomi,” tandasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :