Generasi Muda Kudus Ajak Suporter Menulis Zine untuk Kritik Sepak Bola

oleh -273 Dilihat
Komunitas Literasi Sepak Bola Kudus dalam acara Njagong Bal di Pitch 19 Sports Bar, Kamis (21/8/2025) malam. (Foto: Istimewa)

Kudus, isknews.com – Gelombang kritik dari generasi muda terhadap dunia sepak bola mulai menemukan jalannya melalui media alternatif bernama zine.

Suasana itu terlihat dalam acara Njagong Bal yang digelar Komunitas Literasi Sepak Bola Kudus di Pitch 19 Sports Bar, Kamis (21/8/2025) malam.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat itu, empat komunitas literasi ikut terlibat.

Mereka adalah JenangBledeg, Catenaccio, Dua Belas Football Zine, dan Water Break Space.

Keempatnya sepakat bahwa zine dapat menjadi ruang ekspresi sekaligus wadah kritik terhadap dinamika sepak bola, khususnya di Kota Kretek.

Bagi sebagian orang, zine mungkin masih terdengar asing. Menurut Wikipedia, zine adalah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau oleh kelompok kecil, kemudian diperbanyak dengan cara sederhana seperti fotokopi. Zine merupakan singkatan dari fanzine atau magazine—yakni publikasi non-profesional yang dibuat penggemar untuk komunitasnya. Istilah ini pertama kali digunakan pada Oktober 1940 oleh Russ Chauvenet lewat fanzine sains fiksi, lalu masuk dalam Oxford English Dictionary pada 1949.

Penulis Dua Belas Football Zine, Guntur Bayu Pratomo, menjelaskan bahwa menulis zine bukanlah hal yang rumit.

Justru media sederhana itu memungkinkan suporter menyampaikan kritik apa adanya tanpa beban.

“Apa yang dituangkan dari pikiran ke zine mengalir begitu saja. Apalagi mengerjakannya fun, jadi tidak ada kesulitan,” ungkapnya.

Menurut Guntur, keberadaan zine memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi di kalangan suporter muda.

Melalui zine, kritik bisa dituliskan secara jujur sekaligus memantik perbincangan lebih luas tentang masa depan sepak bola.

“Dari zine bisa menghasilkan kritik dan movement untuk sepak bola tanah air. Ada juga pembahasan soal musik yang menjadi pengiring klub sepak bola,” ujarnya.

Salah satu edisi Dua Belas Football Zine bahkan memuat tulisan berjudul Kanjuruhan Calling, yang menyoroti tragedi Kanjuruhan sebagai refleksi kritis atas buruknya tata kelola sepak bola nasional.

Bagi Guntur, literasi semacam itu penting agar suporter tidak sekadar menjadi penonton, melainkan juga penggerak perubahan.

Ia pun mendorong generasi muda Kudus untuk berani menulis dan menjadikan zine sebagai sarana kritik yang membangun.

“Keinginan saya pribadi semakin banyak generasi muda yang mau untuk menulis. Zine bisa efektif untuk memberitakan tim sepak bola di daerah, bahkan menjadi koleksi bagi suporter,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :