KUDUS, ISKNEWS.com – Gelombang kerugian mulai memaksa peternak ayam broiler di Pantura Timur mengambil langkah penyelamatan usaha.
Harga ayam hidup yang terus berada di bawah biaya produksi membuat banyak peternak di Kabupaten Pati, Kudus, hingga Grobogan mengurangi populasi ternak, menunda chick in, bahkan mengosongkan kandang karena kehabisan modal.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan industri perunggasan nasional yang masih menunjukkan tren positif. Namun, bagi peternak rakyat, situasi justru berbanding terbalik.
Harga jual ayam hidup yang tak kunjung membaik membuat usaha peternakan rakyat berada di titik kritis.
Ketua Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) Pantura Timur, Ir. Saripudin, mengatakan harga ayam hidup telah berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) sejak akhir Mei 2026.
Akibatnya, peternak harus menanggung kerugian yang diperkirakan mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram ayam hidup.
“Peternak rakyat bukan tidak mampu berproduksi, tetapi mereka sedang menghadapi sistem usaha yang belum memberikan keseimbangan,” ujar Saripudin saat ditemui, Rabu (1/7/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Barry itu, harga ayam yang terus berada di bawah biaya produksi membuat modal usaha peternak semakin terkuras.
Banyak peternak kini hanya mengandalkan sisa modal cadangan untuk mempertahankan usaha, sementara biaya produksi tetap tinggi.
Harga pakan, Day Old Chick (DOC), obat-obatan, vitamin, biaya listrik hingga tenaga kerja tidak mengalami penurunan yang signifikan.
Kondisi tersebut membuat keuntungan peternak terus tergerus hingga berubah menjadi kerugian.
Akibat tekanan tersebut, banyak peternak mulai mengurangi kapasitas kandang.
Sebagian memilih menunda periode chick in, bahkan mengosongkan kandang sementara karena tidak lagi memiliki kemampuan finansial untuk memulai siklus produksi berikutnya.
“Banyak peternak di Pati mulai mengurangi populasi, menunda chick in, bahkan ada yang mengosongkan kandangnya karena sudah tidak sanggup menanggung kerugian. Arus kas peternak sudah terganggu dan modal habis untuk menutup kerugian besar, padahal biaya produksi terus berjalan,” katanya.
Saripudin menilai persoalan yang dihadapi peternak rakyat bukan hanya disebabkan oleh rendahnya harga ayam hidup.
Menurutnya, lemahnya posisi tawar peternak dalam struktur industri perunggasan juga menjadi persoalan mendasar. Saat perusahaan integrator menguasai rantai usaha mulai dari pembibitan, pakan, obat dan vaksin hingga distribusi produk unggas, peternak rakyat hanya bergerak di sektor budidaya ayam hidup dengan menanggung hampir seluruh risiko usaha.
Selain itu, PPMP juga menyoroti dugaan kelebihan pasokan DOC Final Stock (FS) yang dinilai menjadi salah satu penyebab melimpahnya produksi ayam hidup di pasar.
Ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan membuat harga ayam terus tertekan dalam waktu yang cukup lama.
“Di sisi lain, sejumlah perusahaan perunggasan besar justru mampu membukukan kinerja keuangan yang positif. Kondisi ini menunjukkan masih adanya ketimpangan dalam ekosistem industri yang perlu segera dibenahi melalui kebijakan pemerintah,” tegasnya.
PPMP mendorong pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui pengendalian produksi DOC secara lebih terukur agar keseimbangan pasar tetap terjaga.
Organisasi tersebut juga mengusulkan subsidi parsial harga DOC saat peternak mengalami kerugian ekstrem, memperkuat pola kemitraan yang lebih adil, serta meningkatkan pengawasan terhadap distribusi DOC dan produk unggas.
Saripudin menegaskan peternak rakyat merupakan salah satu penyangga utama penyedia protein hewani nasional. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya mengukur keberhasilan industri dari tingginya produksi maupun keuntungan perusahaan besar, tetapi juga dari kemampuan peternak rakyat untuk bertahan dan memperoleh penghasilan yang layak.
“Kalau kondisi seperti ini terus berulang tanpa pembenahan tata kelola industri, regenerasi peternak akan terhenti. Anak-anak peternak tidak lagi tertarik meneruskan usaha keluarganya. Padahal peternak rakyat adalah penyangga ketahanan pangan nasional. Tanpa peternak rakyat yang kuat, cita-cita mewujudkan ketahanan pangan nasional akan semakin sulit diwujudkan,” pungkasnya. (YM/YM)






