Haryanto : Minta Pemkab Kudus Kaji Ulang Larangan Mudik

oleh -1.875 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo kepada para menteri pada 23 Maret 2021 menyatakan jika lebaran di tahun 2021 pada 6-17 Mei mendatang
mengeluarkan kebijakan untuk larangan mudik lebaran. Hal ini dikarenakan untuk mencegah risiko penularan Virus Covid-19.

Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan angka penularan dan kematian Covid-19 yang masih tinggi terutama pasca libur panjang. Apalagi, pada perayaan lebaran tahun lalu telah terjadi angka kenaikan rata-rata kasus harian infeksi Covid-19.

Hal ini tentu saja akan berimbas salah satunya pada pengusaha angkutan umum khususnya adalah perusahaan otobus. Selama pandemi banyak perusahaan otobus yang gulung tikar khususnya adalah bus pariwisata. Praktis selama pandemi, sektor pariwisata berada dibawah titik nadir.

Menanggapi larangan mudik tahun ini, owner PT. Haryanto Motor Indonesia (PO Haryanto), Haji Haryanto mengatakan dirinya berharap para pejabat di pemerintahan dapat mengkaji ulang kebijakan untuk melarang mudik tahun ini. Apalagi bagi kaum muslim yang setelah ramadhan mereka juga ingin berkumpul bersama keluarga dikampung halamannya.

“Kalau saya melihat, masyarakat dilarang mudikpun akan tetap berusaha untuk pulang kampung saat lebaran. Mereka biasanya malah nekad naik truk atau kontainer yang penting bisa pulang kampung. Ini kan sangat membahayakan bagi keselamatan mereka sendiri,” kata Haji Haryanto.

Untuk itu, dia meminta kepada para pejabat agar mempertimbangkan hal – hal yang demikian. Yang terpenting mereka dapat menjaga kesehatan. Apalagi momen lebaran merupakan yang ditunggu – tunggu oleh kaum muslimin untuk dapat bersilaturahmi dengan keluarganya. Apalagi lanjut Haji Haryanto, tahun lalu juga mudik dilarang.

“Mudah – mudahan kondisi seperti sekarang ini dapat pulih kembali, kasihan masyarakat. Apalagi teman – temanku sesama pengusaha otobus yang ibarat menangis sudah habis air matanya. Mereka banyak yang kolap dan menjual busnya. Pengusaha bus beda dengan pengusaha lainnya, karena mereka hanya mengandalkan keramaian penumpang pada liburan sekolah, lebaran dan liburan akhir tahun,” pungkas Haji Haryanto.

Namun dengan kondisi seperti ini, maka banyak pengusaha otobus yang tidak bisa meneruskan usahanya dan akhirnya bangkrut. Apalagi bila ditambah adanya larangan mudik tahun ini, bagaimana nasib karyawan dan keluarganya.

“Kalau dari perhitungan saya sih, 75% pengusaha otobus sudah mengalami kebangkrutan dan banyak bus – busnya yang dijual,” tandas Haji Haryanto.(yy/ym)

KOMENTAR SEDULUR ISK :