Hobi Semasa Kecil, Kakek 65 Tahun Tekuni Pembuatan Barongan Hingga Sekarang

oleh -1.447 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Suka dengan kesenian barongan semasa kecil, membawa kesan yang mendalam bagi Nasidi (65 tahun), warga Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, yang sekarang menekuni pembuatan kerajinan barongan.

Ada beberapa model yang dibuatnya, diantara kepala barong, topeng, dan paket lengkap barongan. Dia juga membuat kendang yang dipakai untuk kesenian barongan.

Nasidi (65 tahun) warga Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, perajin barongan (foto:my)

Pembuatan kerajinan barongan dilakukan Nasidi secara otodidak. Meski begitu, hasil buatannya sangat bagus dan rapi, bahkan tidak sedikit dilirik para pecinta barongan.

“Terkendalanya di bahan baku, kalau ada bahan baku pasti buat, kalau tidak ada ya apa yang mau dibuat,” kata Nasidi, saat ditemui dikediamannya, Rabu (13/10/2021).

Nasidi menyebut, bahan baku paling bagus yang dipakai untuk membuat barongan adalah kayu cangkring. Selain Selain ringan dan mudah dibentuk, kayu cangkring juga tidak mudah dimakan rayap.

“Kalau selain kayu cangkring ya berat, seperti kayu randu sama nangka itu bisa, tapi ya cukup berat pas dipakai,” terangnya.

Apabila tersedia bahan baku, lanjut Nasidi, ia bisa membuat dua kepala barongan selama satu bulan. Proses pembuatannya cukup rumit dan membutuhkan keterampilan yang khusus.

Lantaran harus memahat dulu kayu yang akan dipakai. kemudian diamplas, di cat, dan disempurnakan dengan berbagai macam aksesoris lainnya.

“Matanya ini pakai kaca, kalau bulunya pakai bulu kalkun,” tambahnya.

Untuk harga, Nasidi mengaku tidak pernah mematok harga secara spesifik. Pembeli rata-rata menaksirnya seharga 500 ribu hingga 700 ribu rupiah untuk satu kepala barongan. Tergantung dari ukuran kepala barongan serta tingkat kerumitannya.

Sementara untuk satu barongan utuh dari kepala hingga ekor, biasanya ditaksir seharga Rp 2 juta rupiah.

“Pembeli dari warga sini-sini saja, masih Kudus saja,” ujarnya.

Selain kesulitan mencari bahan baku, ia juga mengalami kendala di pemasaran. Dirinya menjual barongan hanya dari mulut ke mulut.

Disamping itu, Nasidi juga baru 5 tahun belakangan serius menekuni pembuatan kerajinan barongan hingga sampai bisa diperjual-belikan.

“Pas istri saya meninggal sekitar tahun 2017 itu baru saya seriusi, sebelumnya cuma sekedar buat iseng saja,” tuturnya.

Nasidi juga tidak melek teknologi, sehingga tidak banyak yang mengetahui hasil kerajinannya secara luas. (MY/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :