Inflasi Kudus Capai 0,20 Persen di November, Bawang Merah Jadi Penyumbang Terbesar

oleh -79 Dilihat
Suasana agenda press rilis di Kantor BPS Kudus, Selasa (2/12/2025). (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Inflasi di Kabupaten Kudus pada November 2025 tercatat sebesar 0,20 persen secara month-to-month (M-to-M), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,43. Hal tersebut disampaikan Statistisi Ahli Madya BPS Kudus, Kusuma Agung Handaka, dalam agenda press rilis di Kantor BPS Kudus, Selasa (2/12/2025). Agung menyebut inflasi pada bulan ini relatif terkendali dan masih bergerak dalam tren stabil, terutama karena dipengaruhi kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti bawang merah dan cabai-cabaian yang mengalami pergerakan harga cukup signifikan.

Agung menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi M-to-M adalah Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan inflasi 0,52 persen dan andil 0,14 persen, disusul Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran yang turut menyumbang inflasi 0,12 persen dengan andil 0,02 persen, serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mencatat inflasi 0,41 persen dengan andil 0,03 persen. Ia menyebut bahwa pergerakan harga pada kelompok-kelompok ini cukup menentukan karena porsinya besar dalam struktur konsumsi rumah tangga. Pada saat yang sama, sejumlah kelompok mencatat andil deflasi sangat kecil atau mendekati nol, seperti Kesehatan dan Informasi-Komunikasi, sehingga ikut menahan laju inflasi agar tetap stabil.

Kelompok Pengeluaran dan Penyumbang Inflasi M-to-M

Agung kemudian merinci bahwa lima komoditas dengan andil inflasi terbesar bulan ke bulan di Kudus adalah bawang merah dengan andil 0,041 persen, cabai merah 0,027 persen, emas perhiasan 0,025 persen, cabai rawit 0,024 persen, dan tomat 0,023 persen. “Kenaikan bawang merah cukup dominan karena pasokan dari beberapa sentra produksi menurun, sementara permintaan tetap tinggi,” ujarnya. Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi, yaitu telur ayam ras (-0,031 persen), daging ayam ras (-0,024 persen), salak (-0,018 persen), beras (-0,007 persen), dan semangka (-0,006 persen), yang menurutnya membantu menjaga keseimbangan harga kebutuhan pokok.

Inflasi Y-on-Y Mencapai 2,80 Persen

Selain inflasi bulanan, inflasi tahun-ke-tahun (Y-on-Y) Kudus pada November 2025 tercatat 2,80 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang berada di angka 2,79 persen. Agung memaparkan bahwa komoditas dengan andil inflasi Y-on-Y terbesar adalah emas perhiasan dengan kontribusi 0,50 persen, cabai merah 0,29 persen, tarif rumah sakit 0,15 persen, mobil 0,13 persen, dan beras 0,12 persen. Sementara itu, lima komoditas yang memberi andil deflasi Y-on-Y meliputi bawang putih (-0,08 persen), telepon seluler (-0,06 persen), laptop/notebook (-0,02 persen), serta semangka dan tomat yang masing-masing mencatat andil -0,02 persen. Menurut Agung, pergerakan tahunan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas harga di tingkat rumah tangga masih cukup terjaga, terlebih inflasi masih berada di bawah ambang kewaspadaan.

Posisi Kudus dalam Peta Inflasi Jawa Tengah dan Persiapan Sensus Ekonomi 2026

Dalam perbandingan antarwilayah, Kudus berada pada kelompok daerah dengan inflasi moderat di Jawa Tengah. Dengan inflasi M-to-M 0,20 persen dan Y-on-Y 2,80 persen, Kudus berada pada level yang serupa dengan Kabupaten Rembang, sementara beberapa wilayah seperti Kota Surakarta dan Kota Semarang mencatat inflasi M-to-M sedikit lebih tinggi yaitu 0,22 persen. “Kenaikan harga pangan pada November ini memang terjadi hampir merata di berbagai daerah di Jawa Tengah, sehingga pola inflasinya cenderung serupa,” terang Agung.

Pada bagian akhir paparannya, Agung juga menyampaikan bahwa BPS mulai melakukan persiapan Sensus Ekonomi 2026, yang akan menjadi instrumen penting untuk memotret struktur ekonomi daerah secara menyeluruh. Ia mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk memberikan data secara benar dan lengkap. “Kami berharap dukungan penuh masyarakat Kudus agar pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 berjalan lancar dan menghasilkan data akurat untuk perencanaan pembangunan,” tutupnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :