Kudus, isknews.com – UPTD Balai Benih Pertanian dan Perikanan (BBPP) Hadipolo, Kabupaten Kudus, kembali menggeliat setelah sempat vakum selama dua tahun akibat minimnya perawatan sarana dan prasarana.
Kini, balai benih milik Pemerintah Kabupaten Kudus tersebut kembali memproduksi benih ikan lele dan nila yang diburu pembudidaya dari berbagai daerah.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Zaenal Arifin mengatakan, balai benih di Hadipolo saat ini dikelola langsung oleh pemerintah daerah.
Sementara fasilitas perikanan di Margorejo dikelola pihak ketiga melalui sistem sewa.
“Kalau yang di Hadipolo itu kita kelola sendiri. Tapi kalau yang di Margorejo itu kita pihak ketigakan, kita sewakan. Karena dulu tidak ada pengelolaannya,” ujar Zaenal.
Menurutnya, balai benih di Hadipolo sempat tidak aktif selama dua tahun karena kondisi fasilitas yang tidak terawat.
Aktivitas pembenihan baru mulai dihidupkan kembali sejak tahun lalu.
“Dua tahun vakum, baru tahun kemarin mulai kita aktifkan lagi. Karena memang dua tahun tidak disentuh sarana-prasarana, jadi banyak yang terbengkalai,” katanya.
Zaenal menegaskan, keberadaan balai benih tidak hanya berorientasi pada pendapatan asli daerah (PAD), tetapi juga sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan budidaya perikanan.
“Balai benih itu idealnya tidak hanya sebatas lembaga ekonomi untuk produksi dan penjualan. Tapi juga ada pembelajaran, penelitian, dan pengembangan budidaya di situ,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Balai Benih Pertanian dan Perikanan Hadipolo, Aji Sutresna menjelaskan, sejak tahun 2017 BBI Hadipolo resmi berubah status menjadi UPTD Balai Benih Pertanian dan Perikanan berdasarkan Peraturan Bupati Kudus Nomor 18 Tahun 2017.
“Awalnya pengelolaannya di bawah Bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan. Sejak 2017 berubah menjadi UPTD,” jelasnya.
Balai benih tersebut memiliki luas sekitar satu hektare dengan total 48 kolam.
Sebanyak 15 kolam berukuran besar, sedangkan sisanya merupakan kolam kecil untuk tahapan pembenihan.
“Kolam kecil di bagian selatan itu untuk pemijahan, digunakan mengawinkan induk nila maupun lele. Setelah telur menetas menjadi larva, dipindah ke kolam pendederan sampai siap jual,” terang Aji.
Sebelum dipasarkan, benih ikan terlebih dahulu ditempatkan di kolam pemberokan selama satu hingga dua hari tanpa diberi pakan agar tetap sehat saat proses pengemasan dan pengiriman.
Dalam setahun, UPTD BBI Hadipolo menjalankan tiga siklus produksi. Pada triwulan pertama dilakukan persiapan kolam, kemudian masuk tahap pembenihan pada triwulan kedua.
“Setahun ada tiga siklus panen. Satu kali panen rata-rata sekitar 13 ribu benih lele dan nila,” ujarnya.
Benih ikan dijual dengan harga sekitar Rp150 per ekor untuk ukuran 7-9 sentimeter atau usia sekitar dua bulan.
Menurut Aji, tingginya minat masyarakat membuat pembeli datang tidak hanya dari Kudus, tetapi juga dari Demak, Grobogan hingga Boyolali.
“Mereka yang sudah biasa beli di sini bahkan rela mengosongkan kolam sambil menunggu benih dari kami tersedia lagi,” ungkapnya.

Aji menyebut tingginya kepercayaan masyarakat tidak lepas dari kualitas benih yang dihasilkan.
UPTD BBI Hadipolo telah mengantongi sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Kita rutin mendapat nilai good bahkan excellent. Selain itu induk ikan yang digunakan juga memiliki surat keterangan asal sehingga kualitas genetiknya terjamin,” katanya.
Meski demikian, pihaknya mengakui masih menghadapi keterbatasan anggaran, terutama untuk perawatan fasilitas.
Saat ini anggaran operasional lebih banyak terserap untuk pembelian pakan, plastik kemasan, dan oksigen pengiriman benih.
“Yang kurang itu perawatan. Banyak saluran air tersumbat dan mesin air sering rusak. Bahkan tembok pagar sepanjang sekitar 100 meter juga sempat roboh tahun lalu,” pungkasnya. (YM/YM)








