Jalur Natas Angin Muria Dibatasi Hingga Pos 6, Pendakian Penuh Dibuka Kembali 2 Juli

oleh -1209 Dilihat
Suasana Basecamp Jalur Pendakian Natas Angin di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, yang menjadi titik awal para pendaki sebelum memulai perjalanan menuju Pos 6 Gunung Muria. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Jalur pendakian menuju Puncak Natas Angin Gunung Muria masih dibatasi hanya sampai Pos 6 atau petilasan Soekarno. Penutupan sementara ini dilakukan sebagai bentuk belasungkawa atas insiden tragis yang menimpa seorang pendaki perempuan, dan jalur diperkirakan akan dibuka kembali secara penuh pada 2 Juli 2025.

Hampir sepekan pasca kecelakaan yang merenggut nyawa Jovita Diva Prabuwardani (21), warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, pengelola jalur pendakian Natas Angin di Desa Rahtawu masih menutup akses menuju puncak. Para pendaki hanya diperbolehkan naik hingga Pos 6, sembari menunggu perbaikan dan evaluasi jalur yang sempat terdampak longsor.

“Sebagai bentuk duka kami, jalur dari Pos 6 ke puncak masih kami tutup. Kami langsung melakukan perbaikan trek dan penggantian tali webing sehari setelah insiden,” jelas Stefanus El Suryanu, pengelola jalur pendakian Natas Angin.

Jalur Natas Angin sendiri memiliki enam pos utama, dimulai dari Pos 1 Kali Banteng hingga Pos 6 Petilasan Soekarno. Sebelum insiden, pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke puncak melalui jalur bayangan dan jalur naga—dua titik ekstrem yang kini tengah dievaluasi.

Meski tidak diizinkan mencapai puncak, para pendaki dan peziarah tetap datang. Pada Minggu (29/6), tercatat sekitar 20 pendaki dan peziarah tiba di lokasi, sebagian besar untuk melakukan ritual di Petilasan Eyang Abiyoso (Pos 5).

Salah satu pendaki, Nuri Putri (16) asal Wedung, Demak, menyatakan dukungannya terhadap keputusan penutupan jalur sementara. “Kami sesama pendaki turut mendoakan almarhumah dan memahami keputusan ini demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris yang turut meninjau langsung pos pendakian hari itu menyampaikan imbauan keselamatan dan pentingnya registrasi pendaki. Ia juga mendorong pengelolaan jalur melalui BUMDes atau Karang Taruna, serta pelatihan pemandu lokal untuk mendampingi pendaki di jalur ekstrem.

“Kami ingin Gunung Muria menjadi destinasi wisata yang aman. Pendaki harus memperhatikan batas usia, kondisi fisik, dan membawa perlengkapan memadai. Kebersihan lingkungan juga harus dijaga,” tegasnya.

Sam’ani juga menyampaikan usulan penggunaan gelang GPS bagi pendaki untuk memudahkan pemantauan dan evakuasi jika terjadi kondisi darurat. Dengan berbagai langkah ini, pendakian Gunung Muria diharapkan dapat berlangsung lebih aman dan tertib ke depannya. (AS/YM)