Jatuh Tempo, Warga Kedungsari Tagih Janji Penutupan Peternakan Ayam Milik Sandung

oleh

Kudus,isknews.com – Kasus penolakan warga terhadap keberadaan peternakan dan kandang ayam petelur milik pengusaha dan anggota DPRD Kudus Sandung Hidayat mencapai puncaknya pada siang tadi. Pasalnya dalam mediasi sebelumnya Sandung selaku pengusaha telah membubuhkan tandatangannya untuk memindahkan peternakannya dari lokasi tersebut dengan jatuh tempo tanggal 26 september 2019.

Meskipun secara administratif peternakan ayam tersebut berada di perbatasan ikut Desa Gondosari Kecamatan Gebog, namun lokasinya yang lebih dekat di pemukiman warga Desa Kedungsari Gebog, sehingga menurut warga, merekalah yang terdampak lingkungan akibat keberadaan usaha tersebut.

Mediasi dilakukan di Balai Desa Kedungsari yang dipimpin oleh Camat Gebog, Bambang Gunadi, Kapolsek AKP Sumanah dan melibatkan puluhan warga pendemo serta pemilik lahan yang kini disewa untuk usaha peternakan ayam.

Peternakan dan kandang ayam petelur di Desa Gondosari yang dipersoalkan warga Kedungsari Gebog karena menurutnya menimbulkan bau dan lalat (Foto: YM)

Suasana sempat memanas saat Sandung masih meminta waktu untuk menunggu perijinan atas lahan yang baru dibelinya sebagai pengganti lahan yang kini dipersoalkan oleh warga, yang menurutnya berada di Desa Honggosoco kecamatan Jekulo Kudus, namun warga bersikeras bahwa Sandung harus tetap melaksanakan janji untuk memindahkan usahanya sekarang juga.

TRENDING :  Ribuan Warga Ikuti Jalan Sehat "Menawan Mantu" Rebut Doorprize Kambing dan Motor

“Kami sudah bersabar menunggu selama 5 bulan agar saudara Sandung memindahkan lahannya, kami sangat terganggu dengan bau tak sedap dan lalat yang seringkali muncul dari peternakan dia,” ujar salah seorang warga, Kamis (27/02/2020).

Seperti diketahui, menurut warga semenjak adanya kandang petelur yang beroperasi di wilayah RW 02 Desa Kedungsari ini menimbulkan dampak polusi udara yaitu bau menyengat dari kotoran ayam petelur serta banyaknya lalat.

“Kami berharap apa yang sudah disepakati pada tanggal 26 september 2019 selama 5 bulan dan jatuh tempo pada tanggal 26 februari 2020 agar ditepati. Apapun alasannya saya minta kandang ayam ditutup,” kata pendemo.

Warga Kedungsari saat dilakukan mediasi yang difasilitasi oleh Camat Gebog (Foto YM)

Sementara Sandung dalam penjelasannya dihadapan warga mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengingkari kesepakatan yang telah disepakati pada tanggal 26 september 2019.

“Saya minta waktu lagi karena semua perlu proses meski saya pindah sekarang atau besok saya tetap rugi dan tidak sedikit kerugian saya atas kandang ayam apa bila ditutup hari ini,” ungkapnya.

TRENDING :  Curah Hujan Tinggi, Kewaspadaan Kawasan Rahtawu Ditingkatkan

Diterangkannya, dia mendirikan usaha kandang ayam ini dengan biaya yang sangat banyak dan berharap masyarakat memakluminya.

“Saya mohon diberi kesempatan, karena saat ini saya sedang membangun usaha di wilayah desa honggosoco dan memohon ke dinas perijinan supaya dipermudah dan setelah semuanya selesai saya akan tutup kandang ayam di desa Gondosari,” ujarnya.

Namun warga tetap bersikukuh menolak permohonan Sandung.

Dalam riuhnya suasana itu, akhirnya Sandung meminta scorsing waktu untuk berbicara dengan Dinas dan instansi yang menurutnya telah menerbitkan ijin atas usaha peternakan ayamnya di lokasi tersebut.

Setelah dilakukan skorsing selama 15 menit, akhirnya pihak pengelola kandang ayam minta waktu 10 hari untuk memindahkan ayam – ayam yang ada di kandang ke tempat yang baru.

Kali ini permintaan Sandung disetujui oleh warga yang mengaku korban dan terdampak oleh keberadaan kandang ayam.

Usai pertemuan yang diakhiri denagn penandatanganan diatas materai tersebut, kepada awak media Sandung mengatakan, penyesalannya dan menyayangkan kepada pihak Dinas dan instansi yang telah menerbitkan ijin bagi usahanya ditempat tersebut.

TRENDING :  Angin Puting Beliung Melanda Desa Bringinwareng Pati

“Seharusnya kalau kelayakan dan ambal batas bau dan sebagainya tak memenuhi, yang janga diterbitkan perijinan, karena dari ratusan peternak ayam di Kudus mungkin hanya puluhan yang mengantongi ijin, termasuk saya,” kata dia.

Menurutnya  ini adalah bagian dari resiko seseorang yang mau usaha, Dia berharap dinas terkait apabila menerbitkan ijin memang benar-benar dievaluasi secara real aturan-aturan yang ada.

“Sehingga tidak ada orang-orang jadi korban seperti saya ini untuk besok dan lusa, apalagi saya memilih lokasi yang sesuai peruntukannya pada RTRW,” kata dia..

Dia mengaku sudah mengeluarkan investasi sekitar Rp 1,6 Miliar untuk usaha tersebut, dengan 15.000 ekor ayam petelur, kandang permanen dengan luas lahan 5000m dan luas bangunan sekitar 2.500m.

“Setelah ini, gambaran saya saya akan sewa kandang yang sudah ada yang ada di wilayah Jekulo dan satu lagi yang ada di wilayah Jepara,” pungkas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :