Jelang Imlek, Penjualan Kue Keranjang di Kudus Diprediksi Terus Naik hingga Cap Go Meh

oleh -972 Dilihat
Pembuat Kue Keranjang. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, denyut tradisi mulai terasa di sejumlah sudut kota. Salah satunya di dapur sederhana Toko Roti Panjunan, tempat kue keranjang diproduksi secara turun-temurun.

Di tengah kesibukan persiapan perayaan Tahun Kuda Api, kue keranjang kembali menjadi primadona. Penganan khas masyarakat Tionghoa ini bukan sekadar sajian musiman, tetapi simbol kebersamaan dan harapan akan kehidupan yang lebih manis di tahun yang baru.

Melani Dwi Hastiningsih, generasi keempat penerus usaha keluarga tersebut, tampak sibuk bersama dua rekannya. Mereka mengaduk adonan, menuangkannya ke loyang, lalu mengukusnya selama berjam-jam demi menjaga cita rasa yang sudah dikenal luas.

Produksinya sekitar kurang lebih 200 kilo per hari,” ujar Melani.

Lonjakan pesanan, kata dia, mulai terasa sejak satu bulan sebelum Imlek dan biasanya masih berlangsung hingga 15 hari setelah perayaan atau Cap Go Meh. Produksi kue keranjang ini memang hanya dilakukan setahun sekali.

Ia menjelaskan, bahan baku utama yang digunakan cukup sederhana, yakni tepung beras, gula, dan air. Dalam sekali adukan, sekitar 10 kilogram tepung beras diolah hingga tercampur rata.

Setelah diaduk, dicetak di loyang, lalu dikukus sekitar enam jam,” jelasnya.

Proses pengukusan yang memakan waktu lama itulah yang menghasilkan tekstur kenyal dan lembut, menyerupai jenang. Warna originalnya coklat muda, meski tersedia pula variasi aroma seperti vanila, pandan, dan coklat.

Kue keranjang berbentuk bulat tanpa sudut, melambangkan keutuhan dan harmoni. Teksturnya yang lengket dipercaya sebagai simbol eratnya persaudaraan, sementara rasa manisnya menjadi doa agar kehidupan di tahun baru semakin manis dan penuh berkah.

Tak hanya memenuhi kebutuhan warga Kudus, kue keranjang produksi Toko Roti Panjunan juga didistribusikan ke Pati, Juwana, Tayu, Semarang, Kutoarjo, Bandung hingga Jakarta. Sejumlah pelanggan bahkan melakukan pemesanan secara daring.

Meski mampu memproduksi ratusan kilogram per hari, tenaga kerja yang terlibat hanya tiga orang. “Kami hanya bertiga. Yang mengaduk sekaligus packing juga. Yang lain paling bantu-bantu,” ungkapnya.

Di tengah perubahan zaman dan persaingan usaha, Melani menegaskan komitmennya menjaga resep warisan keluarga. “Kita tetap pakai resepnya nenek. Ini sudah generasi keempat,” tegasnya.

Konsistensi rasa dan kesederhanaan proses produksi itulah yang membuat kue keranjang Panjunan tetap menjadi primadona setiap menjelang Imlek. Di setiap potongannya, tersimpan manisnya tradisi yang terus hidup lintas generasi. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.