Jembatan Permanen Buka Akses Warga Tanjungrejo dan Klaling Kudus, TNI Dorong Pemerataan Infrastruktur

oleh -375 Dilihat
Peresmian Jembatan Garuda Merah Putih yang melintasi Sungai Logung oleh Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat, Rabu (2/9/2026). (Foto: Istimewa)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Warga Desa Tanjungrejo dan Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kini memiliki akses penghubung yang lebih aman dan mudah setelah Jembatan Garuda Merah Putih resmi digunakan. Kehadiran jembatan permanen tersebut menjadi bagian dari upaya TNI memperluas pemerataan infrastruktur sekaligus mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Jembatan yang melintasi Sungai Logung itu diresmikan Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat, Rabu (2/9/2026). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan dihadiri Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, jajaran Kodam IV/Diponegoro, serta unsur Forkopimda Kabupaten Kudus.

Mayjen TNI Achiruddin Darojat mengatakan, pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih merupakan bagian dari program strategis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut diarahkan untuk membuka akses wilayah yang sebelumnya sulit terhubung, sekaligus memberikan jaminan keselamatan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurut Achiruddin, pembangunan jembatan tidak dilakukan secara sembarangan. Penentuan lokasi mempertimbangkan kondisi riil di lapangan, jumlah masyarakat yang mendapatkan manfaat, serta posisi jembatan sebagai jalur penting yang menghubungkan antardesa.

“Jembatan ini dibangun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Kami di Kodam IV/Diponegoro tidak pilih kasih dalam menentukan lokasi. Daerah yang memang benar-benar membutuhkan, penerima manfaatnya banyak, dan menjadi jalur vital interkoneksi desa akan kami prioritaskan,” ujar Achiruddin.

Ia menjelaskan, persoalan akses menjadi salah satu alasan utama program pembangunan jembatan terus diperluas. Di sejumlah daerah, masyarakat, termasuk anak-anak yang berangkat sekolah, masih harus melewati sungai dengan kondisi arus yang cukup deras sehingga berisiko terhadap keselamatan.

Pembangunan infrastruktur penghubung tersebut hingga kini telah dilakukan di berbagai wilayah Jawa Tengah. Kodam IV/Diponegoro tercatat telah menyelesaikan 311 unit jembatan dan masih menyiapkan pembangunan sedikitnya 100 jembatan tambahan.

Pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah juga didorong untuk mengusulkan lokasi yang membutuhkan pembangunan jembatan. Data dari daerah akan digunakan sebagai bahan untuk menentukan titik yang memiliki tingkat kebutuhan dan manfaat paling tinggi.

Tak hanya berkaitan dengan akses transportasi, TNI juga menjalankan program Menunggal Air sebagai respons terhadap persoalan kekeringan di sejumlah daerah. Program itu mencakup pembangunan sumur bor, penyediaan tempat penampungan air, serta pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air.

Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, kegiata ini menjadi bagian dari sinergi TNI dan pemerintah dalam mendukung pembangunan infrastruktur serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

“Alhamdulillah, Sebanyak 11 jembatan telah direalisasikan, terdiri dari 1 jembatan arco, 2 jembatan gantung, dan 8 jembatan beton, sementara sejumlah pembangunan lainnya masih dalam proses. Selain itu, program sumur bor, irigasi perpompaan, dan pipanisasi turut mendukung kebutuhan air masyarakat dan pertanian.” ungkapnya.

Infrastruktur tersebut, lanjutnya, diharapkan semakin memperlancar akses warga, menghemat waktu tempuh, mendukung aktivitas perekonomian, serta memperkuat produktivitas pertanian.

Bagi warga Tanjungrejo, jembatan tersebut menjadi fasilitas yang sudah lama dinantikan. Ketua RW 06 Desa Tanjungrejo, Abdul Rosyid, mengatakan keberadaan akses permanen sangat membantu masyarakat, khususnya petani yang selama ini kesulitan menuju lahan pertanian di seberang sungai.

Sebelum jembatan dibangun, warga masih mengandalkan jalan setapak untuk melintas. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, debit Sungai Logung meningkat sehingga akses menuju lahan pertanian kerap terputus.

Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpengaruh terhadap pendapatan petani. Hasil panen sulit dibawa keluar karena kendaraan pengangkut tidak dapat melintas menuju area pertanian.

“Dulu kalau musim hujan petani tidak bisa menyeberang ke ladang di sisi timur. Akibatnya, harga jual hasil bumi anjlok karena pembeli kesulitan mengangkut barang. Sekarang mobil sudah bisa melintas, dan tengkulak bisa langsung ambil hasil panen,” kata Rosyid.

Manfaat pembangunan jembatan kemudian diperkuat dengan peningkatan infrastruktur jalan di sekitarnya. Pemerintah Desa Tanjungrejo melakukan pengecoran jalan penghubung dari kawasan RW 06 menuju Desa Klaling agar akses baru tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Proses pembangunan juga mendapat dukungan masyarakat setempat. Warga bersama personel TNI terlibat dalam kegiatan gotong royong selama pengerjaan hingga jembatan dapat beroperasi dan membuka konektivitas yang lebih baik bagi masyarakat kedua desa. (AS/YM)