Kasus Pengeroyokan Berujung Maut Saat Takbir Keliling, Polisi Bakal Monev Arak-Arakan

oleh -2,066 kali dibaca
Wakapolres Kudus, Kompol Satya Adi Nugraha, saat memimpin konferensi pers dalam gelar kasus pengeroyokan warga Undaan Tengah, Undaan, Kudus saat malam takbiran (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Kasus pengeroyokan oleh 8 orang pemuda terhadap korban S (38) sesama warga Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus, saat pawai takbir keliling malam Idul Fitri, (09/04) seperti diberitakan media ini beberapa waktu lalu yang mengakibatkan meninggalnya warga RT 02 RW 1. Kini para pelaku terancamncam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Menurut Wakapolres Kudus Kompol Satya Adi Nugraha menjelaskan, 8 orang yang tiga diantaranya masih dibawah umur tersebut terbukti melakukan aksi penganiayaan terhadap korban setelah kirab ogoh-ogoh milik pemuda gang 4 yang tengah diarak mereka bersenggolan dengan truk sound yang juga peserta kirab takbir keliling milik peserta kirab dari pemuda gang 2 yang hanya berbeda RT dengan mereka.

“Saat itu, kendaraan yang mengangkut ogoh-ogoh karya warga wilayah Gang 2 Undaan Tengah mogok di jalan. Tidak berselang lama, kendaraan yang mengangkut ogoh-ogoh dari Gang 4 menyalip kendaraan yang mogok tersebut. Namun saat lewat, ogoh-ogoh dari Gang 4 menyenggol ogoh-ogoh dari Gang 2 dan berakibat keributan diantara mereka,” ujar Kompol Satya.

“Dari situ, akhirnya terjadi keributan sesaat. Personel yang bertugas langsung melerai, begitu pula dibantu warga sekitar yang melihat kejadian itu,” ujar Wakapolres dalam pers rilis di Mapolres Kudus Selasa (16/04/2024).

Peristiwa itu pun menyebabkan satu orang menjadi korban. Usai bertikai, S yang saat itu merupakan korban, dikatakan Kompol Satya tidak merasa sakit apapun. S juga sempat pulang ke rumahnya terlebih dahulu karena merasa tidak enak badan.

Sebab tidak kunjung membaik, S dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan dokter. Karena kondisi semakin memburuk bahkan kejang-kejang, S dilarikan ke rumah sakit umum daerah di Kudus.

“Di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia. Rentang waktunya sekitar 4 jam dari pengeroyokan hingga korban dinyatakan meninggal,” ujar Kompol Satya.

Dari hasil visum, diketahui bahwa korban memiliki luka lebam di tubuhnya. Ditambah pembekakan di bagian otak bagian belakang yang menyebabkan meninggal dunia.

“Luka korban saat dilakukan visum memang ada beberapa luka. Kemudian kita melaksanakan autopsi memang ada luka menyebabkan pembengkakan di otak di bagian belakang. Beberapa pelaku mengakui memukul dan mengeroyok, dan jatuh masih dipukul,” ujarnya.

Setelah adanya peristiwa tersebut, anggota Satreskrim Polres Kudus langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Di lokasi, pihak kepolisian juga memeriksa sejumlah saksi hingga ditetapkan 8 orang pelaku atas kasus tersebut.

Kompol Satya mengungkapkan, 8 orang yang dinyatakan sebagai pelaku merupakan warga dari Desa Undaan Tengah. Mereka terdiri dari 5 orang dewasa dan 3 orang anak-anak.

“Untuk uang dewasa, pelaku berinisial SR, LT, MZ, MRB, dan MKA,” katanya.

Menurut keterangan para pelaku, dijelaskan bahwa korban sempat dipukul sembari dikeroyok. Saat korban jatuh, para pelaku juga memukul korban.

Dugaan sementara, korban meninggal akibat benturan benda tumpul. Namun untuk jenis benda apa yang digunakan pelaku pada korban, pihak kepolisian masih menyelidiki lebih lanjut.

Wakapolres Kudus mengungkapkan, selama ini wilayah Undaan Tengah belum pernah ada tindak kriminal hingga menghilangkan nyawa seperti yang terjadi seminggu kemarin. Terlebih 60 persen warga Undaan Tengah masih berhubungan saudara, sehingga kecil kemungkinan mereka berselisih hingga tawuran.

“Untuk motif lainnya kami masih melakukan penyelidikan, untuk dugaan adanya pengaruh minuman keras atau musuhan, semuanya masih kami dalami. Atas aksi yang dilakukan, para pelaku terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara sesuai pasal170 KUHP tentang pengeroyokan,” katanya.

Atas peristiwa ini pun, pihak kepolisian akan semakin memperketat pengawasan serta kerja sama dengan semua pihak terkait agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Pihaknya berharap, masyarakat Kudus lebih bijak dalam menjaga emosionalnya.

“Tradisi tetap dijalankan tidak apa-apa, tapi tidak berlebihan dan tidak menimbulkan ego di masing-masing wilayah atau kecemburuan bahkan sampai konflik,” tegasnya.

Dengan kejadian ini, untuk malam takbiran berikutnya, pihaknya mengatakan akan melakukan monitor dan evaluasi (Monev) terkait arak-arakan takbir keliling yang berlebihan.

“Kami akan mengumpulkan dan membicarakan hal ini dengan para ulama, MUI dan tokoh masyarakat bahwa dalam melakukan takbir keliling di Kudus nantinya tidak perlu lagi menggunakan sound horeg atau battle sound demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat sekitar,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.