Kembali DBD Renggut Nyawa Bocah Di Kudus, Dua Bocah Meninggal Di Bulan April Ini

oleh -1,090 kali dibaca

Kudus, 26/4 isknews.com – Setidaknya dua bocah meninggal di Bulan April ini, demikian yang sempat terekam di media ini, setelah sebelumnya Demam Berdarah Dengeu (DBD) memakan korban, seorang bocah Budi Kurniawan (5)  meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegipty (14/4),  warga Desa Pasuruhan Lor Jati Kudus. Siang tadi satu lagi seorang bocah warga Kudus meninggal akibat penyakit mematikan tersebut.

Setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus Garung Lor Kaliwungu Kudus, pada sekitar pukul 14.00 siang tadi Muhammad Bagus Firmansyah atau yang lebih dikenal dengan Bagus (10) bocah warga desa Karangampel RT 5/3 dukuh Blolo Kaliwungu Kudus, akhirnya nyawanya tak tertolong lagi.  Bagus meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah yang dideritanya.

Menurut keterangan Anshori (33) ayah korban, Badan bagus mengalami panas sejak hari kamis kemarin, kemudian pada hari minggu dibawa kerumah sakit islam untuk mendapatkan perawatan. ” Bagus meninggal karna DB, sejak kamis kemarin panas tinggi turun lagi panas lagi, hingga ahirnya pada hari minggu kemarin saya bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan, namun suhu badan tinggi tetap tak ada perubahan  sampai tadi malam panasnya masih tinggi, dan akhirnya meninggal” jelas Anshori.

Dihubungi secara terpisah, sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Maryata (18/4), terkait merebaknya kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kudus, yang dinilai  mulai meningkat signifikan sejak awal bulan Januari hingga April tahun ini, dirinya mengatakan, “Terkait meminimalisir sumber Virus dengue yang  umumnya berkembang biak dalam genangan air, baik itu genangan air yang ada di lingkungan luar rumah seperti waduk atau selokan yang tidak mengalir, maupun di dalam rumah seperti di bak mandi”. jelasnya.

Dirinya menambahkan, “selain itu DBD biasanya berkembang di wilayah yang tingkat sanitasinya buruk atau saluran yang berhenti, maka saya sudah instruksikan untuk setiap hari Jum’at yang biasanya jajaran kami gunakan untuk berolah raga, kami instruksikan hari tersebut di gunakan untuk kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), kemudian tiap hari Sabtu sekolah-sekolah untuk melakukan aksi PSN di lingkungan sekolah dengan cara membersihkan sarang nyamuk, sementara kalau ditinjau dari angka standar pelayanan minimal, grafis kita cukup menggembirakan, angka kesakitan dan incindet rate kita menggembirakan, kalau angka tepatnya mungkin ada di kantor, tapi sejauh ini prosentas korban meninggal memiliki angka penurunan yang signifikan, ” jelas Maryata yang di temui di pendopo saat uji tes urin oleh BNN provinsi.

Sementara itu Sumardi, aktifis LSM “Perintis” yang di temui di rumah duka Korban Budi Kurniawan (4/4), menyerukan, “Sudah semestinya Pemerintah Daerah, terutama DKK segera tanggap untuk melakukan sesuatu, Kudus sudah layak disebut sebagai kabupaten yang dapat dinyatakan sebagai kawasan darurat Demam Berdarah, dan bisa di sebut wilayah endemis atau Penyakit yang umum yang terjadi pada laju yang konstan namun cukup tinggi pada suatu populasi, Korban sudah cukup banyak, dan sebagian besar merenggut anak-anak tunas bangsa, jadi pemerintah harus melakukan tindakan yang nyata dan masif dalam memberantas penyakit DBD di wilayahnya”. Katanya. (LR/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :