Kirab Budaya Apem Kaloran Wujud Pelestarian Tradisi Warga Undaan Lor

oleh

Kudus, ISKNEWS.COM– Sudah menjadi agenda kalender Budaya Desa Undaan, Kirab Budaya “Apem Kaloran” yang diadakan warga di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus. Tradisi yang kini sudah empat kali di gelar di Desa Undaan Lor diharap akan menjadi tradisi khas bagi warga masyarakat Undaan Lor.

Menurut Kepala Desa Undaan Lor Edi Pranoto, kirab ini sekaligus menjadi pesta rakyat bagi ribuan warga dan tradisi ini terus dipertahankan agar nilai-nilai kearifan lokal masyarakat terus lestari.

“Acara Kirab ini adalah acara kirab budaya Apem Kaloran yang maksutnya adalah bentuk dari orang – orang desa memintakan ampun kepada allah SWT, dan untuk membersihkan diri dibulan sya’ban dalam menghadapi bulan ramadhan badan kita sudah suci dan bersih, setelah acara kirab ini, malamnya nanti dilanjutkan dengan acara pengajian di makam Mbah Gareng,” katanya, Miggu (21/05/2017).

Ribuan warga memadati sepanjang rute kirab yang digelar dalam rangka menyambut Bulan Ramadan. Apem yang merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung beras disusun dalam gunungan.Sebagai simbol bentuk dari rasa berbakti kepada orang tuanya. Sehingga dengan do’a anak yang berbakti kepada orang tuanya, yaitu diwujudkan sebagai bentuk apem, sehingga dari apem itu sendiri bentuk dari

permohonan ampun kepada allah dan kepada orang tua kita yang sudah meninggal.

Apem menjadi simbol saling maaf-memaafkan warga Undaan Lor. Zainul, tokoh masyarakat Desa Undaan Lor mengatakan, sudah menjadi tradisi bagi warga desanya membuat penganan apem setiap Bulan Ruwah (penanggalan Jawa). Apem kemudian dibagikan ke tetangga dan sanak saudara sebagai simbol mempererat silaturahmi dan saling memaafkan.

TRENDING :  ​Lestarikan Adat dengan Wayang Kulit dan Sadranan di Ungaran
TRENDING :  Desa Tegal Sambi Jepara Malam Ini Membara

Selain gunungan apem, warga juga mengarak gunungan hasil bumi seperti padi, ketela, jagung, hingga sayur mayur dan buah-buahan. Arak-arakan berakhir di makam Syekh Abdullah (Mbah Gareng) dan di makam keturunan Adipati Kaloran itu, warga dipimpin sesepuh desa memanjatkan doa bersama memohon ampunan dari Allah Swt. Rampung berdoa, gunungan pun diserbu warga yang sudah berkumpul.

TRENDING :  Senin Besok Penjamasan Pusaka Sunan Kudus

 

Menurut dia, tradisi apeman mengajarkan kerukunan masyarakat. Perintah untuk saling memaafkan layak diteladani, sehingga tidak terjadi konflik di tengah masyarakat. Selain membuat apem, warga juga memasak penganan khas seperti nasi jagung dan sayur keong. Tradisi tahunan itu menjadi daya tarik wisata berbasis masyarakat desa di Undaan Lor. ‘’Kami ingin kirab apeman ini menjadi salah satu agenda wisata di Kabupaten Kudus,’’ kata Edi. (MK)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.