Kirab Tradisi Bulusan Digelar Sederhana, Panitia Arak Satu Gunungan Saja

oleh -143 kali dibaca
Digelar sederhana. Panitia Bulusan tahun ini (2022) mengarak 1 gunungan saja. (Foto : ist/David)

Kudus, isknews.com – Tradisi Syawalan di Bulusan yang ada di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus pada tahun ini kembali digelar sederhana untuk masyarakat umum, setelah sebelumnya digelar secara terbatas karena masih masa pandemi Covid-19.

Digelar 7 hari dari hari raya idul fitri, tahun ini kirab bulusan digelar sederhana, yakni hanya satu gunungan saja yang diarak.,

Hal itu dikatakan Andi Lukman, Ketua Panitia Mbulusan Dukuh Sumber Desa Hadipolo kepada awak media usai gunungan ludes dikeroyok warga.

kirab tradisi Bulusan sudah dua tahun terakhir tidak berjalan karena adanya pandemi Covid-19. Yakni pada 2020 dan 2021 silam.

“Dua tahun terakhir ini vakum. Alhamdulillah tahun ini diperbolehkan untuk melaksanakan tradisi ini. Tetapi ya kami laksanakan terbatas hanya satu gunungan saja. Antusias warga bagus dan semoga bisa longgar lagi tahun depan,” katanya, Senin (9/5/2022).

Dia menjelaskan, kirab tradisi Bulusan itu mengkirab satu gunungan hasil bumi. Terdiri dari 20 jenis sayuran. Untuk jumlah peserta kirab hanya 50 orang saja.

Menurut dia di 2019 lalu ada sepuluh gunungan yang dikirab. Namun, karena masih situasi pandemi pelaksanaan kirab tradisi Bulusan tahun ini hanya membawa satu gunungan.

“Kami rute kirabnya juga sekitaran sini saja dan selesai di depan makam mbah Dudo di RT 05, RW 05 ini,” ujarnya.

Perayaan bulusan, bagi warga sekitar dianggap sebagai kegiatan peringatan hari lahirnya (khaul) bulus, yang menurut cerita bulus tersebut merupakan jelmaan dua orang manusia yang bernama Kumoro dan Komari, murid Kiai Dudo.

Perayaan tradisi Bulusan berlangsung sejak lama, yakni ketika Sunan Muria masih melakukan syiar agama Islam.

Digelarnya kembali tradisi Bulusan bisa mendatangkan rezeki masyarakat sekitar dengan berjualan aneka makanan dan minuman dan lainnya.

Saat puncak acara Bulusan, warga sekitar akan memberi makan bulus (sejenis kura-kura) yang sebelumnya berada di sungai setempat, kini ditempatkan di kolam.

Selain itu, masyarakat jika hendak mengadakan hajat juga datang untuk memberi makan di kompleks Makam Mbah Dudo, terutama saat tradisi Bulusan digelar. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :