Kondisi Luka Bakar AS Makin Kritis, Polisi Belum Bisa Lakukan Penyidikan

oleh -333 kali dibaca
Ilustrasi gambar pasien yang alami luka bakar 90 persen (Foto: Istimewa)

Kudus, isknews.com – AS (32) ) Warga Desa Klumpit, Gebog, Kudus, suami yang tega membakar hidup-hidup anak balita MS (1,5) dan isterinya SL (20) hingga tewas, sampai hari ini masih belum bisa dilakukan penyidikan dan penetapan status tersangkanya.

Pasalnya pria yang setelah membakar anak dan isterinya itu diduga juga ikut membakar diri bersama mereka namun gagal. Meski selamat akan tetapi kondisi sekujur tubuhnya penuh luka bakar.

Tak kunjung dilakukan pemeriksaan atas diri yang bersangkutan oleh polisi, adalah akibat status luka bakar yang juga menimpanya. Info terkini diperoleh dari tim medis bahwa statusnya meningkat dan kondisinya kesehatannya memburuk.

Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Kudus, AKBP Wiraga Dimas Tama saat dihubungi sejumlah awak media melalui telefon selulernya. Ia mengakui bahwa pihaknya hingga hari ini masih belum bisa melakukan pemeriksaan terhadap terlapor, AS (32).

“Kami belum bisa memeriksa terlapor, karena faktor kondisi kesehatannya yang kian memburuk. Kemarin mau ditanya sudah pingsan. Dan sekarang yang bersangkutan masih dirawat di RSUD Loekmono Hadi,” jelas Wiraga, Senin (18/04/2022).

Posisi terlapor saat ini, AS warga Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, masih dirawat di ruang ICU RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Pihaknya juga belum meningkatkan perkara itu ke penyidikan dan menetapkan pelaku sebagai tersangka.
“Belum (jadi tersangka-red), masih terlapor,” ujarnya.

Terpisah, Konsultan ICU RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, dr Listiyana menyampaikan, kondisi terakhir pasien masih terpasang ‎ventilator dan mengalami luka bakar 90 persen.

Jika melihat kondisi tensinya masih baik, namun harapan hidupnya sangat kecil karena risiko infeksi.

“Saat ini kondisi tensinya baik, tapi prediksi karena luka bakar tersebut kemungkinan bisa menimbulkan infeksi,” ujar dia, saat ditemui di RSUD Kudus, Senin (18/4/2022)‎.

Menurut Listiyana, ‎kondisi infeksi tersebut mulai terlihat dari jumlah leukositnya yang meningkat sampai 27 ribu.

“Normalnya leukosit pada manusia itu 4 ribu sampai 11 ribu. Berarti kondisi sekarang sudah naik dua kali lipatnya,” ujarnya.

Dia memprediksikan, kondisi kesehatan pasien akan terus mengalami penurunan selama 7-10 hari ke depan.

Luka bakar itu dinilai dapat mempengaruhi kondisi kesehatan jantung, paru-paru dan ginjalnya.

“Memang menangani kasus luka bakar di atas 80 persen itu sulit, tapi kami tetap akan berusaha maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Loekmonohadi Kudus, Abdul Aziz Acyar menerjunkan lima orang dokter untuk mengobati pasien.

Dokter penyakit dalam, anastesi, kejiwaan, dan mikrobiologi diterjunkan untuk memulihkan kondisi pasien.

“Ada sekitar lima dokter yang menangani pasien,” ujar dia.

Saat ini, kondisi pasien diberi obat penenang agar tidak gelisah karena khawatir mencabut paksa ventilator dan infus.

Perawat yang bertugas di ruangan ICU juga pernah menanyakan alasan melakukan pembakaran tersebut. Jawabannya karena mencintai istrinya.

“Katanya melakukan itu karena mencintai istrinya. Tapi kalau mencintai seharusnya tidak menyakiti,” ujarnya. (My/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :