Kudus, isknews.com – Kopi tak hanya menjadi minuman yang dinikmati, namun juga komoditas yang mengikat budaya dan menggerakkan ekonomi.
Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Budaya bertema kopi, yang digelar di Srawung Camp, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, dalam rangka Festival (Kenduri) Wiwit Kopi pada Sabtu (9/8/2025).
Anggota DPRD Jawa Tengah dari Komisi E, Arif Wahyudi, hadir sebagai salah satu pembicara. Ia menegaskan bahwa kopi juga masuk dalam unsur ketahanan pangan yang menjadi perhatian pemerintah provinsi.
“Komoditas kopi di Posong, Temanggung pada tahun 2000 awalnya adalah salah satu solusi menahan erosi dengan menanam kopi di kawasan tersebut. Kemudian di tahun 2009 pemerintah mulai melakukan penataan dengan mewajibkan petani kopi menjual biji secara terpilih, tidak boleh campur merah dan hijau, dan tidak dijual ke tengkulak luar,” ujarnya.
Arif mengungkapkan, Posong kini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi terbaik di Temanggung.
Ia berharap Kudus, khususnya di lereng Muria, bisa menempuh jalur serupa.
“Kopi di lereng Muria termasuk tanaman unggulan. Apa yang bisa saya bantu, akan saya upayakan lewat program dan kebijakan. Concern saya adalah bagaimana Kudus dan Jepara punya legasi, minimal ada yang bisa diperjuangkan untuk petani kopi,” katanya.
Arif Wahyudi juga menyampaikan bahwa di tingkat provinsi, tersedia berbagai program gratis untuk meningkatkan SDM perkopian, seperti pelatihan barista, guide, kuliner kreatif, hingga pelatihan berbasis UMKM.
“Pelatihan barista ini waktunya 30 hari, tiap peserta dapat uang harian dan biasanya juga diberi perlengkapan seperti coffee grinder dan alat seduh,” jelasnya.
ditempat yang sama, Iwan Kurniawan atau akrab disapa Ucil, pemilik Number 8 Coffee, menyebut Kudus memiliki komunitas Kudus Coffee Enthusiast yang berupaya meningkatkan jumlah penikmat kopi.
“Mencari barista yang benar-benar mumpuni itu agak sulit. Kalau bicara kopi spesialti, identik dengan transparansi, baik data maupun harga yang harus dibuka. Untuk kopi Japan, saya berharap ada keterbukaan seperti itu,” ucapnya.
Menurut Ucil, Kudus saat ini belum memiliki seorang Master Coffee atau Q Grader, yang menjadi penguji dan penilai mutu kopi secara profesional.
“Itu tantangan besar kalau mau kopi Muria naik kelas,” tambahnya.
Dalam sarasehan, Bambang, petani kopi asal Desa Japan yang telah menanam kopi selama 30 tahun, menuturkan bahwa tradisi ini sudah menjadi warisan keluarga.
“Saya diajari ayah sejak kecil. Prospek kopi selalu bagus dan cenderung naik, meski tahun ini ada sedikit penurunan. Menanam kopi itu sudah jadi budaya,” ujarnya.
Mutohar, moderator yang merupakan ketua Desa wisata Japan dalam prolognya menyebut bahwa gelaran Sarasehan Budaya ini menjadi ruang bertemunya petani, pelaku usaha, dan pegiat kopi untuk merumuskan langkah strategis.
“Harapannya, kopi Muria tidak hanya bertahan sebagai komoditas, tapi juga terus berkembang sebagai identitas budaya dan sumber ekonomi warga lereng Muria,” tutupnya.
Sementara itu dihubungi terpisah, Pelaksana Harian (Plh) Djatmiko Muhadi mengatakan, pelestarian Kopi Muria di Gunung Muria dilakukan melalui kombinasi antara pengembangan agrowisata, pemberdayaan petani lokal, inovasi pengolahan, pemasaran digital, dan pelestarian budaya seperti tradisi “wiwit Kopi” di Desa Japan.
“Dibutuhkan sinergi pemerintah dan akademisi untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan pasar, menjadikannya produk unggulan khas Kudus yang mendunia dari lereng Muria,” tandasnya. (YM/YM)







