Langgar Bubar, Benarkah Berasal Dari Kuil Hindu Petilasan Pangeran Poncowati ?

oleh -2,538 kali dibaca

KUDUS, isknwes.com –Langgar Bubar, nama yang mencerminkan keadaan bangunan pada saat ditemukan. Tanpa atap, dinding retak-retak, bergelombang, melesak dan nyaris roboh. Terletak di sebuah gang sempit di Jalan Sunan Kudus, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupatenh Kudus, konstruksi bangunan yang tinggal reruntuhan itu, mirip dengan yang terdapat di Menara Kudus, yakni terbuat dari susunan batu bata merah yang disusun tanpa semen. Namun pada Langgar Bubar ini terdapat keistimewaan, bata merahnya dapat mengelupas sendiri, jika ditumbuhi lumut.
Lazimnya sebuah langgar, pada bangunan berukuran luas 874 x 840 centi meter dan batu bata merahnya berukuran 25 x 14 x 4 meter ini, terdapat mihrab atau tempat pengimaman di dalmnya. Hanya saja di Langgar Bubar ini, mihrab iu hanya berupa relung yang menjorok keluar, pada bagian dinding sebelah barat, dan ukuranya 102 x 67 centi meter. Yang menimbulkan pertanyaan, mihrap ini hanya berjarak 30 centi meter dari dinding sebelah selatanm sehingga hampir berdempetan. Tidak seperti biasanya, mhrab berada di tengah ruang sholat utama, sehigga makmum dapat sholat di kanan kiri imam. Akan tetapi itu tidak akan bisa dilakukan di Langgar Bubar. Mengenai keadaan mihrab yang tidak biasa itu, sampai sekarang masih belum diketahui.
Dua pintumasuk yang ada di sisi timur dan selatan, juga menimbulkan kesan aneh dan unik, karena biasanya masjid atau langgar, hanya mempunyai sebuah pintu masuk, di sisi sebelah timur. Lantas apa fungsi pintu-pintu itu? Apakah mungkin karena pengaruh aritektur candi yang mempunyai pintu pada tiap sisinya, mengingat arsetektur masjid-masjid kuno di Indonesia banyak dipengaruhi arsitektur candi.
Di sebelah utara bangunan itu, terdapat ruang kosong yang fungsinya sebagai penampil, yang keadaannya lantai dasarnya sudah roboh, membuat kita bertanya apa fungsinya. Pada bangunan candi, memang biasanya ditemukan penampil sebagai tempat arca. Tetapi dalam Islam, haram hukumnya meletakkan arca di dalam tempat sholat, karena bisa dianggap menyekutukan Tuhan. Ketidak laziman ini masih menjadi tanda tanya besar sampai saat ini.
Benda-benda Yang Ditemukan
Di sekitar Langgar Bubar, tepatnya di sebelah timur, terdapat benda-benda yang terbuat dari batu andesit, terdiri atas, lapik berukuran 94 x 48 x 36 centi meter, lumpang setinggi 42 centi meter, diameter 80,5 centi meter dengan lubang di bagian tengahnya, dan tugu setinggi 104 centi meter, dan batu panjang berelief seorang laki-laki yang berdiri dengan memegang sapu, dan potongan rambut model Budha. Semua benda itu ditemukan di sebuah kedung pada salah satu bagian Sungai Kaligelis, yang jaraknya sekitar 200 meter dari Langgar Bubar.
Peninggalan Pangeran Poncowati
Pemelihara atau penjaga Bangunan Cagar Budaya (BCB) itu, adalah Aman, yang menurut warga setemmpat, kini sudah tidak lagi bertempat tinggal di Demangan, tepatnya di muka Langgar Bubar, karena sudah pindah ke Desa Sunggingan.
Data yang dihimpun isknews.com, bangunan itu diduga sebuah kuil Hindu, tempat bersemayam Pangeran Poncowati, sebelum masuk Islam. Pada dinding luar ada sebuah 3 angka Arab, yang mungkin merupakan petunjuk didirikannya bangunan itu, yakni angka 456 Hijriyah. Pangeran ini, sebelumnya adalah seorang tokoh agama Hindu, pada masa Kerajaa n Majapahit, pada masa pemerintahan Raja Brawidjaja V.
Disebut Langgar Bubar, karena ada satu cerita, Pangeran Poncowati, setelah masuk Islam, bermaksud mengubah kuilnya itu menjadi langgar. Dengan kesaktian yang dimilikinya, dia berniat untuk mengubahnya hanya dalam waktu satu malam. Ketika pekerjaan itu menjelang selesai, mendadak ada orang menyapu tak jauh dari kuil, padahal waktunya masih dini hari, akan tetapi karena adanya orang menyapu itu adalah pertanda ayam akan berkokok, yang berarti malam akan berganti pagi.
Merasa pekerjaannya gagal karena ketahuan manusia (kamanungsan, Jawa), Pangeran Poncowati marah, dan disabdalah orang yang menyapu itu menjadi patung batu. Kemarahannya masih berlanjut dengan menendang kuil, hingga runtuh sebagian. Oleh masyarakat sekitarnya, kemudian disebut Langgar Bubar. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :