Lazismu Kudus Bekali Amil Strategi Fundraising Digital Berbasis Website dan Konten

oleh -1086 Dilihat
Sekolah Amil Kelas Fundraising Digital yang diselenggarakan oleh Lazismu Wilayah Jawa Tengah. (Foto: YM/YM)

Kudus, isknews.com — Lazismu Kudus terus berupaya meningkatkan kualitas penghimpunan dana berbasis digital dengan mengikuti Sekolah Amil Kelas Fundraising Digital yang diselenggarakan oleh Lazismu Wilayah Jawa Tengah.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 26–28 Januari 2026 di Hotel Candi Indah, Semarang, sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas amil menghadapi tantangan fundraising di era teknologi digital.
Keikutsertaan Lazismu Kudus dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen lembaga untuk meningkatkan profesionalisme pengelolaan media dan fundraising di tingkat daerah.

Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri atas kepala divisi fundraising dan staf media Lazismu se-Jawa Tengah, serta dihadiri perwakilan Lazismu dari luar Pulau Jawa, yakni Kalimantan Timur, Sumatra Barat, Bangka Belitung, dan Gorontalo.

“Sekolah Amil Kelas Fundraising Digital ini bertujuan mengoptimalkan penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah melalui pemanfaatan teknologi digital, sekaligus memperkuat branding Lazismu sebagai lembaga yang profesional, transparan, dan akuntabel,” ujar salah satu panitia penyelenggara kegiatan.

Puncak kegiatan berlangsung pada 27 Januari 2026 dengan penyampaian materi dari narasumber Pusat Syi’ar Dakwah Muhammadiyah PP Muhammadiyah Yogyakarta. Erwan Sudiwijaya, S.Sos., MBA, menyampaikan bahwa website memiliki peran strategis dalam fundraising digital Lazismu.

“Website bukan sekadar etalase informasi, tetapi menjadi pusat branding lembaga dan platform utama penghimpunan dana daring yang harus dikelola secara profesional untuk membangun kepercayaan publik,” jelasnya.

Materi tentang copywriting dan storytelling fundraising disampaikan oleh Dr. Fajar Junaedi, S.Sos., M.Si. Ia menegaskan bahwa kekuatan narasi menjadi faktor penting dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.

“Storytelling fundraising harus disusun secara persuasif dan beretika. Narasi yang jujur dan amanah tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mampu membangun kedekatan emosional serta meningkatkan kepercayaan donatur,” ungkapnya.

Sementara itu, Rasyid Hidayatullah, S.Kom, menekankan pentingnya produksi konten dan tata kelola website yang terintegrasi.

“Konten visual dan tulisan harus selaras dengan identitas Lazismu, serta dikelola secara konsisten agar website benar-benar optimal sebagai platform penghimpunan dana berbasis digital,” katanya.
Peserta dari Lazismu Kudus, Nabila Shilla, menilai kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan Lazismu di daerah.

“Sekolah Amil Kelas Fundraising Digital ini sangat relevan dengan kebutuhan Lazismu Kudus, terutama dalam menghadapi tantangan penghimpunan dana di era digital. Kami mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengelolaan website, penyusunan konten, serta strategi storytelling fundraising yang efektif dan beretika,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa materi yang disampaikan bersifat aplikatif dan mudah diterapkan.

“Materi dari para narasumber sangat sesuai dengan kondisi di daerah. Kami optimistis ilmu yang diperoleh dari kegiatan ini dapat langsung diterapkan untuk memperkuat media digital dan meningkatkan kualitas fundraising Lazismu Kudus ke depan,” tambahnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.