Lesbumi Kudus Kritik Maraknya Coffee Street Lewat Live Painting dan Baca Puisi

oleh -263 Dilihat
Sejumlah seniman yang tergabung dalam Lesbumi Kudus menggelar live painting dan pembacaan puisi di atas trotoar Jalan Pramuka, Wergu Wetan, Minggu (28/6). (Foto: istimewa)

KUDUS, ISKNEWS.com – Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) Kudus menyampaikan kritik terhadap maraknya fenomena coffee street yang dinilai menggeser fungsi trotoar sebagai ruang aman bagi pejalan kaki. Kritik tersebut disampaikan melalui pertunjukan live painting, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi yang digelar di trotoar Jalan Pramuka, Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, Minggu (28/6) sore.

Aksi budaya itu menjadi bentuk ekspresi para seniman dan pegiat sastra dalam menyuarakan pentingnya menjaga fungsi ruang publik. Trotoar dipilih sebagai lokasi kegiatan agar pesan yang disampaikan selaras dengan isu yang diangkat, yakni pengembalian trotoar sesuai peruntukannya.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Tiga seniman rupa secara bersamaan melukis di atas kanvas, sementara masyarakat yang melintas maupun anak-anak muda tampak berhenti untuk menyaksikan proses kreatif tersebut.

Di sela-sela proses melukis, para peserta bergantian membacakan puisi yang lahir dari keresahan terhadap kondisi ruang publik. Beragam karya sastra dibawakan, mulai dari ungkapan refleksi pribadi, kritik sosial, hingga ajakan untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan kehidupan perkotaan.

Agenda tersebut juga melibatkan Teater Gerak 11, pelajar, mahasiswa, pegiat teater, serta berbagai komunitas seni di Kudus. Setelah sesi live painting selama kurang lebih satu jam, acara dilanjutkan dengan musikalisasi puisi yang didominasi penampilan generasi muda.

Ketua Lesbumi Kudus, Abud SB Runcing, mengatakan kegiatan kolaboratif tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang dikemas melalui pendekatan seni dan budaya.

Menurutnya, tema “Bisik Bumi di Atas Trotoar” dipilih sebagai simbol ajakan untuk kembali mendengar suara alam yang sering terabaikan di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan.

“Di sini kami mengambil tema Bisik Bumi di Atas Trotoar, bagaimana manusia menjaga hubungan baik dengan alam dan bumi, kemudian menyuarakannya melalui puisi serta lukisan,” ujarnya.

Abud menilai persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan hutan, sungai, atau pepohonan. Ruang publik di kawasan perkotaan, termasuk trotoar, juga menjadi bagian dari lingkungan yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia menyoroti semakin banyak trotoar di kawasan Kota Kudus yang beralih fungsi menjadi area coffee street maupun tempat berdagang, sehingga ruang bagi pejalan kaki semakin terbatas.

“Di sepanjang jalan utama di wilayah kota masih tren street coffee. Kemudian alun-alun juga lebih banyak dimanfaatkan untuk berdagang daripada menjadi ruang temu bagi warga Kudus,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Lesbumi berharap seni dapat menjadi media penyampaian aspirasi kepada pemerintah maupun masyarakat agar trotoar dan ruang publik dikembalikan sesuai fungsi utamanya.

Dalam kesempatan itu, tiga karya lukisan hasil live painting turut dipamerkan kepada pengunjung. Masing-masing menghadirkan pesan yang berbeda mengenai hubungan manusia dengan alam.

Seniman Mondy menghadirkan lukisan abstrak yang menggambarkan bisikan bumi yang kerap diabaikan manusia. Sementara Khoirul Anam melukiskan sosok manusia dengan komposisi segitiga sebagai simbol harmonisasi hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan.

Adapun Randy Gita menghadirkan lukisan Tugu Lingga Yoni Gang yang merepresentasikan keyakinan masyarakat dalam beribadah melalui filosofi Manunggaling Kawula Gusti.

Salah seorang peserta, Amanda Putri Cahyani, berharap masyarakat tidak hanya larut dalam hiruk pikuk aktivitas perkotaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Di balik hiruk pikuk kota, alam selalu memberi pesan. Ada bumi yang tak pernah berteriak meskipun terluka. Mari berhenti sejenak, mendengar, dan mulai peduli terhadap alam yang perlu dirawat,” tuturnya.