Lewat Budaya, Bahasa dan Sastra Bisa Kembangkan Pariwisata dan Industri Kreatif

oleh -274 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Budaya, Bahasa dan Sastra menjadi salah satu faktor untuk mendukung pariwisata dan industri kreatif. Sehingga pengembangan wisata atau industri kreatif bisa semakin dikenal, seperti novel yang didalamnya terdapat budaya dan lokasi daerah yang menjadi latarbelakang cerita.

Hal itu disamapikan kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dr. Ganjar Harimansyah dalam seminar nasional Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia ke-43 di Universitas Muria Kudus Via daring dengan tema ‘Potensi budaya, Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya untuk pengembangan pariwisata dan industry kreatif’.
Narasumber lain dalam kegiatan tersebut yakni Dr. Sudaryanto, Dosen Prodi PBSI Dr. Mohammad Kanzunuddin, M.Pd dan seorang penulis Abidah El Khalieqy.

Penulis Novel Abidah El Khalieqy mengatakan, dalam penulisan sastra yang selama ini dilakukannya, selalu terdapat irisan budaya dan wisata didalamnya. Sehingga penulisan karya sastra sebenarnya menyangkut banyak hal.
Seperti dinovel karangannya berjudul ‘Mata Raisa’, didalamya ada narasi yang secara khusus menyebut destiansi wisata di Jawa Timur. Seperti cerita tentang kampung arab di Ampel Surabaya dan peninggalan Majapahit di Mojo Agung.
Seperti juga novel berjudul ‘Singgasana’, didalamnya juga menyinggung destinasi wisata di Jogja, seperti Kaliurang, Parangtritis dan lainnya.

Narasumber lain, Dosen UMK Dr. Mohammad Kanzanuddin mengatakan, cerita rakyat bisa menjadi atraksi wisata. Atraksi wisata yang disukai oleh wisatawan mancanegara adalah seni dan budaya yang ada di Jawa Tengah.
Inti menunjukkan bahwa seni dan budaya yang ada di Jateng memiliki unsur keunikan dan keaslinan yang tidak ada di negara lain. ”Atraksi wisata yang menarik harus memiliki kriteria keunikan, originalitas, otentisitas dan diversitas produk, misalnya di Kudus, Menara Kudus memiliki originalitas, karena sangat unik dan tidak terdapat ditempat lain,” terangnya.

Disadari atau tidak, cerita rakyat sudah menjadi atraksi wisata, terutama cerita rakyat yang berbentuk setengah lisan (berbagai tradisi) dan nonlisan seperti gebyok dan kuliner. Namun pelaku wisata tidak menyadarinya, sehingga penanganan tidak dilakukans ecara utuh dan tidak dikaitklan dengan diensi wisata dan tuntutan wisata.
Sehingga, ketika cerita rakyat dilakukan secara baik, akan mengahsilkan industri kreatif dan akan mengundang datangn ya wisatawan untuk datang mengunjungi. Karena wisatawan dating akan memikirkan apa yang akan dilihat dan apa yang akan dibeli. ”Sehingga cerita rakyat ini perlu digarap baik agar bisa menajdi atraksi wisata,” jelasnya.

Sedangkan terkait pembelajaran saat pandemi, bisa memanfaatkan media digital untuk pembelajaran dan mengahsilkan karya. Apalagi pengguna media sosial di Indonesia sangat besar, data terakhir menunjukkan 202,6 juta warga sudah menggunakan internet. Untuk itu konsep literasi digital perlu dibangun untuk pembelajaran Bahasa.
Dalam pembelajaran Bahasa, pendidik atau lainnya bisa memanfaatkan media sosial, seperti Instagram. Misalnya dengan membuat puisi-puisi singkat dengan desain sederhana dan diupload di Instagram. ”Pembelajaran seperti itu tidak kalah asyik,” terangnya.

Selain itu bisa melakukan alih wahana ‘kertas’ ke digital, apalagi sudah banyak aplikasi atau platform yang mendukung. Seperti Wattpad, Storial.co, Medium, Jotterpad, Steller hingga Penana.
Dari media tersebut, tidak hanya digunakan untuk menulis, tapi juga menyebarkan karya siswa atau guru serta dosen. Seperti aplikasi Wattpad yang dirilis 2006, saat ini 100 juta cerita dan bahkan ada yang sempat viral dan akhirnya terkenal melalui Wattpad. ”Platform yang ad aitu, sangat bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran bahasa dan sastra berbasis digital,” terangnya.

Dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran, tentu ada yang harus diperhatikan. Seperti media digital yang dipakai harus bisa digunakan untuk menyalurkan pesan atau bahan pembelajaran dengan teknologi digital, sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan peserta didik dalam pembelajaran.

Lalu yang harus diperhatikan, syarat media dighital bisa digunakan media pembelajaran adalah media digital harus enarik minat peserta didik, autintik dan mutakhir sesuai dengan tingkat psikologis, Bahasanya baik dan tepat, mendorong keaktifan siswa dan memudahkan dari sesgi penerapannya.
”Media digital yang digunakan harus sesuai dengan kontek sosial dan budaya serta kebutuhan dan tantangan peserta didik,” imbuhnya. (AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :