Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus Mengajak PR. IPNU IPPNU Bakalan Krapyak Menjadi Garda Terdepan Yang Berwawasan Islam Moderat

oleh -340 kali dibaca

Kudus, isknews.com – KKN-IK Bakalan Krapyak mengadakan Seminar Moderasi Beragama dengan tema “Pentingnya Moderasi Beragama Dalam Membangun Karakter Millenial di Era Digital”. Seminar ini diselenggarakan di Aula Balai Desa Bakalan Krapyak dan live streaming instagram. (26/09/2021)

Seminar ini menghadirkan pemateri-pemateri yang luar biasa, yaitu Bapak Hudda Amrullah, S. H. I dan Bapak Dr. Ozi Setiadi, S.Sos., M.A. Pol.

Acara seminar secara langsung dihadiri oleh ketua panitia yang juga ketua KKN, Muhammad Abroru Ashlah dan anggota PR.IPNU IPPNU Bakalan Krapyak. Kata Ashlah, “Harapan saya adanya seminar ini menjadikan para peserta menjadi garda terdepan yang berwawasan moderat, baik itu di dunia nyata maupun di dunia digital”. Sedangkan anggota KKN lainnya Erina Ayu Saputri bertindak sebagai MC, dan Setyani bertindak sebagai moderator.

Tema yang diangkat membahas isu tantangan Islam moderat seperti bagaimana cara menumbuhkan sikap moderasi beragama di kalangan masyarakat, utamanya pada generasi millenial, bagaimana memanfaatkan media digital secara bijak, bagaimana generasi millenial bisa merawat bangsa ini agar tentram dan damai. Moderasi beragama dianggap penting karena merupakan konsepsi yang dapat membangun sikap toleran dan rukun dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam pemaparannya, Bapak Hudda Amrullah, S.HI menjelaskan bahwa di Bakalan Krapyak terdapat bermacam-macam agama yakni Islam Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah, Nasrani, Kristen, dan Budha. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi warga masyarakat Bakalan Krapyak dalam berinteraksi di kehidupan. Perbedaan inilah nantinya bisa memunculkan sikap dalam diri seseorang bahwa apa yang diyakininya itu benar sedangkan yang lain dianggap salah, bahkan terkadang terhadap sesamanya yang berbeda pandangan  pun mudah mengkafirkan. Dalam menyikapi hal ini maka ketika seorang muslim berselisih pendapat perlu menerapkan  “lana a’maluna walakum a’malukum” dan “lakum diinukum waliyadiin”. Maksudnya ialah “amalanku adalah amalanku dan amalanmu adalah amalanmu” dan “untukmu agamamu, untukku agamaku”. Dalam ayat tersebut sudah dijelaskan bahwa tidak adanya bentuk kompromi untuk mencampur adukkan ajaran agama, boleh tolong menolong dalam hal sosial tetapi tidak boleh dalam hal agama.

Pesan yang disampaikan beliau bahwa perbedaan itu rentan dengan perpecahan. Akan tetapi kita sebagai generasi muda harus mampu memaknai perbedaan itu sebagai suatu jalan untuk saling mengenal satu sama lain dan juga saling menghormati. Seorang mukmin dalam bersikap juga harus tawazun (seimbang), tawasuth (mengambil jalan tengah), serta tasamuh (toleransi).

Narasumber kedua, yakni Dr. Ozi Setiadi, S.Sos., M. A. Pol. memaparkan materi tentang “Gaya Komunikasi dan Retorika Dakwah Rasulullah Saw sebagai Acuan Moderasi Beragama bagi Generasi Millenial di Era Digital”. Beliau menyampaikan bahwa gaya bicara dalam komunikasi Islam ada enam yaitu:

  1. Qaulan sadida: ucapan yang benar dan tegas. Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginfomasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.
  2. Qaulan baligha: menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah di mengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.
  3. Qaulan ma’rufa: perkataan yang santun, tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan, bermanfaat dan menimbulkan kebaikan.
  4. Qaulan karima: perkataan yang mulia dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertata karma.
  5. Qaulan layina: pembicaraan yang lemah lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa layina ialah kata sindiran, bukan dengan kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.
  6. Qaulan maysura: ucapan yang mudah dimengerti dan dipahami oleh komunikan, sehingga menimbulkan penuh pengertian.

Dari acara seminar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kita sebagai generasi millenial haruslah paham akan pentingnya bersikap moderat kepada sesama, dan mampu mengaplikasikan sikap moderasi beragama dengan baik, sehingga tercipta kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan. (Erina/CH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :