Mediasi Persoalan PT Soloroda Alami Jalan Buntu

oleh
Foto: Saat berlangsungnya mediasi antara pimpinan dan pekerja PT Soloroda Indah Plastik, di ruang rapat Kantor Disnakertrans Kudus. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Mediasi antara pimpinan perusahaan dan pekerja PT Soloroda Indah Plastik Kudus, mengalami jalan buntu. Pasalnya, tak satu pun pimpinan perusahaan yang hadir.

Padahal mediasi yang berlangsung Senin (29-01-2018), Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Nakertrans) Koperasi dan UMKM Kabupaten Kudus itu, untuk ketiga kalinya berlangsung. Menindaklanjuti dua kali mediasi sebelumnya yang juga belum membuahkan hasil.

Dari PT Soloroda Indah Plastik yang diharapkan hadir dalam mediasi, seperti yang tertulis dalam surat undangan yang dilayangkan oleh Disnaketrans, adalah Muhammad Toha, komisaris utama yang juga pemegang saham, Juli Handoyo dan Eddy Pramono, masing-masing sebagai direktur lama dan baru, serta Syamsubannar, notaris perusahaan.

TRENDING :  PT Soloroda Tak Penuhi Panggilan Komisi B DPRD

Namun tidak satu pun dari ke empat orang itu, hadir dalam mediasi tersebut. Sebagai gantinya, mereka mewakilkan kepada pengacara perusahaan, Suharno.

Dari pihak pekerja, hadir Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Kudus, Wiyono, Kuasa Hukum Daru Handoyo dan Pengurus Unit Kerja (PUK) SPSI PT Soloroda Indah Plastik, Rusdi.

Bertindak selaku mediator, Agus Juanto dan Budi Santosa, keduanya Staf Bidang Penyelesaian Perselisihan Ketenagekerjaan dan Hubungan Industrial (P2K-HI) Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi (Nakertrans) Koperasi dan UMKM Kabupaten Kudus, disaksikan oleh Kabid P2K-HI, Ansori.

TRENDING :  Anggota Dewan Janji Kawal Pembangunan Infrastruktur Desa Wisata

Menurut Daru Handoyo, agenda dalam mediasi itu, mempertanyakan kepada pihak PT Soloroda, tentang Badan Hukum (BH) dan permasalahan ketenagakerjaan di perusahaan. Hal itu terkait dengan tuntutan pekerja yang meminta uang pesangon, sebagai hak pekerja yang dirumahkan oleh pihak perusahaan, sejak Oktober 2017 lalu.

“Pekerja menuntut perusahaan memberi uang pesangon, total sebesa Rp 16 miliar, untuk sebanyak 317 orang pekerja yang dirumahkan,” jelasnya.

Menanggapi permintaan tersebut, pengacara PT Soloroda Indah Plastik, mengatakan perusahaan tidak bisa memenuhi, dikarenakan kondisi perusahaan yang rugi. Aktivitas perusahaan pun sudah beberapa bulan tidak berproduksi. Aset PT Soloroda Indah Plastik yang tersisa, hanya bangunan pabrik dan mesin-mesin.

TRENDING :  Polri Pastikan Pelapor Beras Plastik Tak Akan Dipidanakan

Dengan Kondisi seperti itu, perusahaan tidak mampu memberikan uang pesangon, sebanyak yang diajukan oleh pekerja. Sementara di pihak pekerja, tetap pada tuntutannya.

“Akhir mediasi, karena tidak ada titik temu, kedua belah pihak yang berselisih, menyerahkan kepada Disnakertrans, agar dicarikan solusi atau penyelesaian yang tidak merugikan kedua belah pihak,” jelas Daru Handoyo. (DM/AM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :