Kudus, isknews.com – Gagasan pengolahan air terpadu di kawasan Gunung Muria dinilai menjadi langkah strategis untuk mengatasi ketimpangan ketersediaan air antara musim hujan dan musim kemarau di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati.
Rochmad, mengungkapkan bahwa limpahan air hujan dari lereng Gunung Muria yang mengalir deras ke laut saat musim hujan seharusnya dapat dikelola sebagai cadangan air untuk menghadapi musim kemarau.
”Ketika musim hujan, air melimpah dan langsung mengalir ke laut. Namun saat kemarau tiba, petani justru kesulitan air untuk mengairi sawah. Konsep ‘menabung air’ hadir agar keberlimpahan pada musim hujan bisa dimanfaatkan saat musim kering,” ujar Rochmad.
Mengubah Limpahan Air Menjadi Cadangan
Pengelolaan air terpadu tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai bagian dari amanah ekologis untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjaga kelestarian lingkungan.
Beberapa opsi pengelolaan yang diusulkan mencakup pembuatan jaringan waduk, embung, kolam retensi, sumur resapan, hingga pemeliharaan kawasan resapan air. Cadangan air ini nantinya diproyeksikan untuk lima kebutuhan utama:
- Irigasi Pertanian: Menjamin ketersediaan air sawah saat curah hujan menurun.
- Ketersediaan Air Baku: Memenuhi kebutuhan harian masyarakat tanpa mengganggu kelestarian sumber mata air.
- Pengurangan Risiko Banjir: Menampung limpasan air hujan untuk memperkecil risiko banjir di daerah aliran sungai.
- Pertanian Terpadu: Mendukung sektor peternakan, perikanan, dan tanaman pangan secara berkelanjutan.
- Ketahanan Pangan: Membantu petani merencanakan musim tanam dengan lebih kepastian.
Rochmad menekankan bahwa tidak seluruh aliran sungai harus ditampung, melainkan hanya bagian air yang secara teknis, ekologis, dan sosial layak untuk disimpan demi menjaga ekosistem hilir.
Perlunya Kajian Neraca Air dan Kolaborasi Tiga Kabupaten
Mengenai wacana pembangunan waduk besar di Muria Raya, Rochmad menyarankan perlunya kajian mendalam terlebih dahulu. Menurutnya, kondisi geologi setiap lembah di Gunung Muria berbeda-beda.
Sebagai langkah awal, pihak terkait didorong untuk segera menyusun neraca air kawasan Muria Raya untuk memetakan debit sungai, kebutuhan irigasi, serta potensi dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas pemerintah daerah, yakni Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati, bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, perguruan tinggi, serta kelompok tani.
Beberapa rekomendasi langkah konkret yang dirumuskan antara lain:
- Inventarisasi sumber mata air, sungai, dan embung yang ada di kawasan Muria.
- Pemetaan data debit air dan kebutuhan riil per musim.
- Penentuan lokasi dan jenis infrastruktur yang ramah lingkungan dan adil bagi masyarakat lokal.
- Pembentukan forum koordinasi lintas kabupaten.
”Pembangunan infrastruktur air hendaknya mengutamakan kemaslahatan bersama. Manfaatnya harus dirasakan oleh petani kecil dan masyarakat sekitar tanpa merugikan wilayah hilir atau merusak ekosistem Gunung Muria,” pungkasnya.






