Kudus, isknews.com – Barongan merupakan symbol atau gambaran Si Raja Hutan yang besar, Singo Barong atau Macan Gembong. Barongan berasal dari kata dasar barong atau barung yang artinya besar. Sedangkan Barongan berasal dari kata baro – baro yang artinya dampyak – dampyak, Bebarengan yang mempunyai makan lain bersama-sama, beriring-iringan, berarak-arakan di sepanjang jalan.
Kabid Kebudayaan, Rofiq melalui Seksi Seni, Tradisi dan Bahasa, Giyono saat ditemui isknews.com mengatakan, Sejarah tentang asal-usul seni Barongan Kudus sampai saat ini belum diketahui secara pasti, bukti autentik tertulis tentang seni Barongan Kudus belum dapat diketemukan. “Sampai saat ini seni barongan Kudus yang masih eksis tinggal sekitar 30 group,”ungkapnya
Dirinya menjelaskan, Konon tutur legenda atau cerita rakyat masyarakat Kudus yang sudah turun tumurun, bahwa seni Barongan Kudus sudah ada sejakratusan tahun yang silam yaitu pada jaman perkembangan Islam di Kudus. Seni Barongan Kudus konon diciptakan oleh Ki Gedhe Loram dibantu dan dilanjutkan oleh Ki Gedhe Getas untuk sarana dakwah dan hiburan rakyat.
Sampai saat ini, Fungsi Seni Barongan Kudus biasanya di buat untuk Upacara Adat, diantaranya Upacara ruwatan kelahiran anak, Upacara Ruwatan Naas seperti Mendirikan anjang – anjang pada hari Jum’at Wage, anjang – anjang tersebut roboh. Upacara penangkal wabah, pagebluk dan membuang sengkala dan lain sebagainya
“Barongan dibuat Tontonan atau tuntunan untuk Hajat khitanan, Penganten, Nadar, Tasayakuran, Hari besar. Selain itu, Barongan juga digunakan sebagai sarana Pendidikan atau penerangan seperti Mengungkap cerita / sejarah, Sarana dakwah, Pesan pesan pembangunan, Pesan-pesan pendidikan.”ujarnya
Dirinya menerangkan, Hiburan yang ditampilkan pada barongan Kudus, lanjut Giyono, diantaranya Tarian seperti Beksan Tayub, Barongan, Jaran Kepang, dengan menampilkan seni Atraktif seperti Pencak silat, Akrobatik, Makan beling/kaca, silet dan padi (pari), Mengupas kelapa dan Sandiwara ( kethoprak )
Personil pemain seni barongan Kudus beranggotakan minimal18 orang dan maksimal 25 orang, yang memainkan Musik Pengiring seperti Kendhang Bapang atau Ciblon, Slompret, Kempul nada 6 dan 5, Bonang Kethuk, Bonang Kempyang, Saron, Demung, Bonang, Kempul dan Gong, Kentongan
Adapun Peralatannya Tarian diantaranya seperti Barongan, Topeng Penthul dan Tembem, Topeng Bondhetan ( ason-ason ), Topeng Celengan, Topeng Gendruwon Kembar, Kepala Pedhawangan Pria dan Wanita, Jaran Kepang, Pedhang panjang untuk Gendruwon, Arit atau clurit untuk Penthul dan Tembem.
Giyono berharap, “Pertunjukan atau demi barongan Kudus tidak tergilas zaman dan ada regenerasi yang meneruskan warisan nenek moyang jawa pesesir pantai utara itu.” Pungkasnya (AJ)






