Momentum Ramadan, Percetakan Alquran di Kudus Alami Kenaikan Order Hingga 40 Persen

oleh -254 Dilihat
Suasana ruang quality control di Fa Percetakan Menara Kudus (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com – Firma(Fa) Percetakan Menara Kudus yang berlokasi di Jalan Besito Nomor 35, Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, dikenal sebagai percetakan Alquran terbesar dan tertua di Indonesia itu pada momentum Bulan Ramadan tahun ini memiliki kenaikan order hingga mencapai 40 persen.

Direktur utama Fa Menara Kudus Achmad Fatoni menyampaikan, sesungguhnya memang pada setiap tahun menjelang bulan Ramadan tentu omzet percetakannya naik. Pembeli kebanyakan sudah melaksanakan pemesanan dahulu sebelumnya.

“Kebanyakan pemesan itu sudah order sebelum bulan Ramadan, untuk kemudian disumbangkan ke masjid atau panti asuhan,” ujarnya, Rabu (29/03/2023).

Lebih lanjut, untuk permintaan penjualan dapat dibeli dengan model satuan ataupun borongan dengan harga mulai Rp. 1.750 hingga Rp. 200 ribu perkitab Alquran . Menurutnya, harga tersebut terbilang standar dan tidak mengutip biaya mahal atau tinggi.

“Konsumen kami sebagian besar adalah pelanggan tetap, meskipun ada juga beberapa yang baru,” ungkapnya.

Direktur utama Fa Menara Kudus Achmad Fatoni (Foto: istimewa)

Percetakan yang didirikan oleh KH Zainuri Noor itu berdiri sejak 1952 lalu itu kini merupakan salah satu percetakan Alquran dan kitab tertua di Indonesia dan sudah dua generasi dengan empat kali pergantian pimpinan. Pada awal berdiri, Percetakan Menara Kudus fokus menerima jasa percetakan label jamu, rokok, dan beberapa produk lainnya. Namun lambat laun, usaha percetakan yang dirintis Zainuri Noor ini bertransformasi menjadi percetakan Alquran dan kitab.

Untuk Alquran distribusinya sudah menyebar diseluruh kota-kota di Indonesia bahkan dari Sabang hingga Merauke. Pihaknya juga menerima banyak order dari seluruh cabang pemasaran perusahaannya seperti di wilayah Jakarta, Jogjakarta, Kudus dan Surabaya.

“Bahkan untuk agennya, berada di Sulawesi, Sumatra hingga Lampung,” terangnya.

Usai sang ayah KH Zainuri Noor berpulang, usaha percetakan ini diteruskan oleh putra pertamanya Hilman Najib sejak 1976 – 2006 lalu dilanjutkan oleh putra ketujuh Muhammad Sofin pada 2006-2013, dan terakhir oleh putra kedelapan Ahmad Fatoni sejak 2013 yang menjabat sebagai direktur utaman hingga sekarang.

Direktur Utama Fa Menara Kudus, Ahmad Fatoni menceritakan, percetakan Alquran dan Kitab ini terbentuk hasil kedekatan pendiri KH Zainuri Noor dengan KH M Arwani Amin Said.

Hasil kedekatan keduanya, KH Zainuri Noor mendapatkan ide mendirikan percetakan Alquran dan kitab dari KH M  Arwani Amin Said. Mushaf pertama yang dicetak adalah pemberian dari KH M Arwani Amin Said yang kini terkenal dengan Alquran Pojok Menara. 

Menurut Ahmad Fatoni tempat produksi Percetakan dan Penerbit Menara Kudus sudah berpindah-pindah tiga kali.

“Pertama berada di Jalan Menara Nomor 4, tepatnya di sebelah Selatan Masjid Menara Kudus sebagai cikal bakal pertama berdiri. Kemudian berpindah ke Jalan HM Subkhan terletak di sebelah Selatan perempatan Jember. Dan kini berdiri di Jalan Besito Nomor 35, Desa Bakalan Krapyak sejak 1984,” terangnya.

Ahmad Fatoni mengatakan, saat ini firmanya sudah memiliki cabang di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dan Kudus.

“Sudah mencetak 300-400 judul kitab, dan sekitar 60 judul Alquran,” ujarnya.

Dia menyebut, momentum Ramadan setiap tahun terjadi peningkatan permintaan pasar hingga 25 persen.

Permintaan barang sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum Ramadan dimulai, datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Saat ini, lanjut dia, sistem produksi di percetakannya dikonsep berdasarkan time line. Semester pertama mulai Januari-Juli fokus pada percetakan Alquran dan kitab secara berkala.

Dengan perkiraan mencapai 150 judul dalam semester, atau kurang lebih 20.000-50.000 pcs dalam satu produk atau judul. 

Sementara semester kedua, lebih difokuskan pada percetakan kalender dan kitab saja.

“Jadi cetak kami berdasarkan time line, tidak setiap hari. Kalau hari aktif kerja setiap hari kecuali Jumat libur,” tuturnya.

Ahmad Fatoni menjelaskan, segmen pasar produk percetakannya menyasar pada santri pondok pesantren dan sekolah madrasah diniyah.

Sementara itu, saat ditanya mengenai persaingan zaman, yang digempur dengan Alquran digital Hp Android, Fathoni menilai bahwa ketika membaca Alquran fisik itu lebih khusyuk.

“Kalau yang di gadged itu dipakai saat perjalanan jauh. Buat baca-baca di mobil maupun sedang dalam kondisi diluar, Alquran di hp android itu hanya bersifat sebagai pendamping menurut saya,” pungkasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.