Musim Hujan Dan Angin Kencang, Rahtawu Waspadai Tanah Longsor

oleh -1,285 kali dibaca

KUDUS, isknews.com – Desa Rahtawu secara monografi berada di Kecamatan Gebog terletak di wilayah catchment area di sisi selatan lereng Muria. Di sisi utara berbatasan dengan Desa Tempur, Kabupaten Jepara. Dibagian selatan berbatasan langsung dengan Desa Menawan, pada sisi timur berdampingan dengan Desa Ternadi, Kecamatan Dawe dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jepara. Dari Ibu Kota Kabupaten Kudus, desa ini jaraknya sekitar 20 kilomter.

Desa Rahtawu memiliki potensi wisata yang sangat menarik. Potensi wisata yang dapat dikembangkan kawasan dengan ketinggian ± 1.627 m dari permukaan air laut, antara lain pengunjung dapat menikmati panorama alam pegunungan yang asri dan indah mempesona dengan udara yang bersih, segar dan sejuk. Di desa ini terdapat gunung yang terkenal dengan sebutan Wukir Rahtawu. Gunung ini terletak di sebelah gunung Muria. Letak geografis desa Rahtawu sendiri menarik minat masyarakat untuk melakukan wisata.

Namun di balik keindahan desa wisata itu, Rahtawu adalah juga dikenal sebagai desa atau daerah rawan bencana alam tanah longsor. Dalam sejarahnya, Desa Rahtawu sudah beberapa kali mengalami bencana alam. Tercatat pada Januari 2014 di daerah Gambir, Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu mengalami longsor yang mengakibatkan 1 mushola roboh, 1 masjid rusak tertimpa tanah longsor, 15 rumah rusak berat, 1 orang meninggal dan 1 jembatan rubuh serta jalan kampung putus sehingga sekitar 1.480-an Warga Rahtawu mengungsi di Balai Desa. Lima SD dan 1 SMP yang berada di lokasi dekat bencana longsor, diberhentikan proses belajar mengajarnya selama hampir dua minggu. Pengungsi baru bisa kembali dan proses belajar mengajar kembali pulih, setelah kondisi aman.

Bencana besar lainnya, yang pernah juga terjadi di Desa Rahtawu, berdasarkan data yang ada di laporan kejadian bencana alam Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, adalah, pada 1993 Sungai Kaligelis di Rahtawu, meluap mencapai ketinggian 7 meter, mengakibatkan ratusan hektar lahan pertanian rusak.

Bencana itu terulang lagi pada 2001, di mana banjir banjir besar jembatan satu-satunya yang menghubungkan Rahtawu dan Dukuh Semliro, ambrol dan hanyut, selain itu juga mengakibatkan lahan pertanian di sekitar aliran sungai Kaligelis rusak.
.
Lima tahun kemudian, yakni pada Maret 2006 terjadi tanah longsor 2 warga Dukuh Semliro, Desa Rahtawu meninggal, 1 rumah penduduk beserta ternak hilang (6 ekor kambing, 2 ekor sapi). Tanah longsor juga terjadi di Dukuh Wetan Kali, Desa Rahtawu terjadi longsor menimpa 2 rumah penduduk 1 rusak berat.

Bupati Kudus H Musthofa, dalam kesempatan berbicara di Rapat Paripurna DPRD, mengatakan, memasuki musim hujan, berbagai langkah yang sudah dilakukan adalah, melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, mengaktifkan Ruang Pusat Pengendali Operasional (Rupusdalops) selama 24 jam di Kantor BPDB. “Persiapan lainnya, menyangkut titik lokasi pengungsian, sarana dan prasarana untuk evakuasi korban bencana alam, dan juga logistik untuk kebutuhan pengungsi.” (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :