Musthofa : Guru Layak Digugu dan Ditiru Harus Jadi Suri Tauladan Lingkungan

oleh -278 kali dibaca
Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dr. H. Musthofa, dalam sosialisasi 4 Pilar MPR RI dihadapan anggota Forum Tenaga Pendidik Non ASN se Kabupaten Kudus di Aula Balai Desa Loram Wetan (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com – Memahami Pancasila tidak hanya sekedar sila-silanya saja, tapi juga sejarahnya yang diamanahkan oleh pendiri bangsa terdahulu. Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama merupakan salah satu kunci penggerak informasi yang digugu dan ditiru layaknya guru di sekolah-sekolah formal, sehingga guru non ASN ini adalah tokoh-tokoh masyarakat, yang saat ini menjadi suri tauladan di lingkungannya.

Hal itu disampaikan oleh anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan wakil dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah II, Dr. H. Musthofa, dalam sosialisasi 4 Pilar MPR RI dihadapan sebanyak 150 anggota Forum Tenaga Pendidik Non ASN se Kabupaten Kudus di Aula Balai Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Minggu (05/06/2022) sore.

Kegiatan sosialisasi rutin yang dilaksanakan oleh Musthofa yang juga anggota komisi II DPR, dengan maksud dan tujuan adanya tanggung jawab bersama dalam memberikan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa dan Ketetapan MPR kepada masyarakat.

“Sebagai wujud dari tanggung jawab kami, maka setiap anggota MPR mendapat tugas untuk melakukan sosialisasi Putusan MPR didaerah pemilihannya atau Dapil,” kata Musthofa.

Di era digital seperti sekarang ini, menurut manatan Bupati Kudus ini merupakan tantangan yang akan dihadapi saat ini tidak lagi satu arah, melainkan banyak arah termasuk melalui media social.

“Karenanya hal itu harus segera diimbangi dengan berbagai pendidikan karakter dan saya berharap bimbingan kita mulai dari tataran tingkat keluarga sendiri dalam mengawasi putra putri kita pada saat memanfaatkan Medsos dengan benar dan memberikan pemahaman agar putra-putri kita tidak menjadi konsumen dan produsen berita berita hoaks, apalagi ujaran kebencian dan perilaku perilaku dan ujaran yang mengarahkan kepada budaya intoleransi,” ungkap dia.

Dalam memahami Empat Pilar diharapkannya jangan hanya sebatas pada hafalan semata. Tapi, harus meningkat di tataran implementasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Mulai dari lingkup kecil seperti di keluarga dan lingkungan tempat tinggal atau di lingkungan tempat kerja, kalau hanya hafalan, saya yakin semua orang bahkan seusia SD sampai ibu rumah tangga, pasti hafal luar kepala. Seperti sila-sila Pancasila sebagai salah satu bagian dalam Empat Pilar MPR. Penjabaran sila-sila dalam tidak nyata, itulah yang bangsa ini perlukan saat ini,” pesannya.

Ditempat yang sama, Erni Susanti, seorang tenaga Pendidik Tingkat Dasar dari Kecamatan Kota menyarankan agar sosialisasi ini seharusnya tidak hanya dengan cara tatap muka secara berkala, melainkan di agendakan secara rutin dengan cara bertatap muka langsung maupun telekonferens.

“Sehingga banyak manfaat yang tidak hanya sosialisasi 4 Pilar ada juga kegiatan untuk diskusi para tenaga pendidik untuk saling belajar dan berbagi ilmu dalam mengajar siswa siswi kita, Termasuk juga diberikan wawasan dan pelatihan dalam pengembangan dan program kewirausahaan, sehingga waktu luang yang banyak setelah mengajar kami lebih produktif dalam menambah pemasukan kami,” tandas Erni. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.