Nasi Meniran, Kuliner Pagi Khas Kajar yang Ludes Diburu Pembeli

oleh -1.657 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Bagi masyarakat Kudus, khususnya warga Desa Kajar, Kecamatan Dawe mungkin tidak asing lagi dengan nasi meniran. Kuliner pagi yang banyak diburu pembeli ini biasanya sudah ludes tidak lebih dari jam 9 pagi.

Buka mulai jam 6 pagi, Nasi Meniran milik salah satu warga Desa Kajar, Sri Wahyuningsih (43), mengaku bahwa banyak dari kalangan warga setempat maupun luar desa yang mampir ke warungnya untuk sarapan.

“Jam 8 lebih itu sudah tinggal beberapa bungkus (nasi meniran) saja, sudah sisa,” ujarnya.

Sri menerangkan, nasi meniran merupakan makanan khas Desa Kajar yang terbuat dari beras, garam, dan santan yang dimasak. Yang menjadi ciri khas di warung Sri adalah dibungkus dengan daun pisang ukuran kecil, yang dihargai 500 rupiah per bungkusnya.

“Saya sengaja memang membungkus kecil-kecil, karena banyaknya permintaan supaya harganya bisa murah,” katanya.

Dulunya, lanjut Sri, nasi meniran merupakan bekal makanan yang dibawa oleh warga setempat saat bekerja di hutan.

Namun seiring berjalanya waktu, nasi meniran mulai disukai banyak kalangan, dari anak kecil, dewasa. Bahkan warga diluar Desa Kajar pun juga banyak yang rela jauh-jauh dari kota ke Desa Kajar, hanya untuk mencoba nasi meniran.

“Karena sekarang banyak peminatnya, saya bisa menjual hingga ratusan bungkus hanya dalam 2 jam saja,” ucap Sri.

Untuk rasanya, seperti basi uduk, hanya saja dikukus dengan daun pisang dengan bungkusan ukuran kecil-kecil. Biasanya, disantap dengan botok, pepes, sambal dan aneka gorengan seperti tahu isi, bakwan, dan mendoan.

“Untuk harga satu bungkus nasi meniran dan aneka gorengan Rp.500 saja dan untuk botok dan pepes harganya Rp.1 ribu,” ujarnya.

Salah satu pembeli, Karimin (53 tahun), mengatakan, bahwa dia sudah langganan makan nasi meniran di warung Sri sejak 2 tahun yang lalu. Selain harganya yang murah, rasa nasi meniran disini lebih enak dibanding yang lainnya.

“Saya hampir tiap hari ke sini untuk sarapan,” ujarnya.

Hal yang sama pun dituturkan oleh Abdul Kholiq (52 tahun), pesepeda dari warga Desa Piji, Kecamatan Dawe. Setiap hari libur, dirinya bersama teman-teman pesepeda lainnya kerap mampir ke warung milik Sri untuk sarapan.

“Hari minggu kalau sepedaan, datang kesini untuk sarapan, rasanya paling beda dan lebih enak, terus harga sini juga murah,” katanya. (MY/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :