Nasyiyatul Aisyiyah Kudus : Perempuan Basis Potensial  Penguatan Ideologi Pancasila

oleh -154 kali dibaca
Ketua PDM Nasyiyatul Aisyiyah Kudus Aris Naini (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Seminar Penguatan Ideologi Negara  yang digelar bersama Pimpinan Daerah (PD) Nasyiyatul Aisyiyah (NA) Kabupaten Kudus dan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Kudus dengan tema penguatan Ideologi Pancasila dalam Berorganisasi dan Berpolitik bagi Perempuan.  NA Kudus berharap agar para perempuan kader Muhammadiyah di Kudus khususnya, memiliki ideologi Pancasila yang kuat.

“Dengan seminar ini semoga mampu menguatkan ideologi kita (perempuan) agar tidak melenceng dari Pancasila. Ibu adalah seorang perempuan, seorang pendidik pertama bagi putra-putrinya. Mendidik tentang Pancasila supaya tidak melenceng ke yang lain,” kata Ketua PDM Nasyiyatul Aisyiyah Kudus Aris Naini, Jumat (11/3/2022).

Sehingga menurutnya, perempuan adalah basis potensial bagi penguatan arah dan tujuan ideologi Pancasila.

Bertempat di Aula SMK Muhammadiyah Kudus, kegiatan tersebut diikuti oleh 60 orang peserta. 30 orang dari PDM NA, 20 orang dari Pimpinan Cabang NA, dan 10 orang dari Pimpinan Ranting NA Kudus.

Aris berharap, setelah mengikuti seminar hari ini, para perempuan Muhammadiyah mampu menyalurkan ilmu yang didapat ke anggota lainnya.

“Penyampaian ke anggota masing-masing, pimpinan cabang dan ranting sudah memiliki jadwalnya sendiri. Ada semacam jadwal kajian setiap dua minggu sekali, harapannya bisa disampaikan ke anggota lainnya,” pintanya.

Sementara itu Bupati Kabupaten Kudus HM Hartopo yang saat itu hadir juga mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan PDM NA Kudus. Kegiatan ini diharapkan mampu menguatkan idelogi Pancasila bagi para perempuan.

“Sebagaimana dengan tema yang diangkat, dalam berorganisasi, berpolitik, bagi perempuan tentu harus sesuai dengan ideologi Pancasila. Setiap negara tentunya memerlukan ideologi untuk dasar menuju arah yang ingin dicapai,” kata Hartopo

Berbicara tentang peran perempuan, Hartopo mengategorikan menjadi tiga kategori. Sebagai ibu dalam keluarga, istri, dan sekaligus anmggota masyarakat. Sebagai ibu yang harus mengawal dan mendidik anak dari kecil sampai memiliki masa depan nantinya. sedangkan menjadi istri yang harus sellau mendampingi suaminya.

“Peran perempuan di masyarakat ini bagaimana hidup bahagia, bermakna, dan bermanfaat untuk orang lain. Dalam berpolitik ini adalah peran perempuan di masyarakat,” ungap Hartopo.

Sekarang dengan adanya emansipasi wanita, lanjut Hartopo, perempuan tidak hanya di dapur saja. Perempuan punya banyak kreativitas, inovasi, dan harus seimbang untuk terus bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.